Teks Khutbah Jum'at tentang Ilmu
Jamaah Jum’at yang Berbahagia
Kita telah memahami posisi ilmu begitu penting dalam kehidupan kita, terutama ilmu syariat Islam. Perlu diketahui bahwa syariat tidak hanya mengajarkan tentang akidah. Tapi juga mengajarkan akhlak dan adab. Rasulullah pernah bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna adalah orang yang paling baik akhlaknya”. Ibnu Umar juga pernah berkata, “Kami lebih membutuhkan adab meskipun sedikit, daripada ilmu meskipun banyak”.
Masa kini, adab bagi pencari ilmu sering diabaikan. Hubungan antara murid dan guru, maupun diantara para guru bahkan para dengan para santri seringkali tidak sejalan dengan akhlak. Sama halnya ketika kita secara tidak sadar memberi penghormatan terhadap orang lain dipengaruhi oleh kepentingan dan penampilan orang tersebut. Sedangkah menjaga adab merupakan bagian dari perintah agama.
Saatnya bagi kita untuk memperhatikan dan meninggikan adab dalam mencari ilmu yang telah dijaga dan dijalankan oleh ulama terdahulu. Sehingga ilmu dapat memberi manfaat, bukan hanya pada tatanan duniawi namun juga tatanan ukhrawi. Ada beberapa akhlaq yang harus diperhatikan oleh penuntut ilmu.
Yang pertama, pencari ilmu harus meyucikan hati dari segala pelanggaran-pelanggaran yang dimurkai allah. Imam nawawi dalam Muqaddimah syarh al-muhaddab berkata, “seyogyanya bagi seorang penuntu ilmu menyucikan hatinya dari kotoran-kotroan sehingga ia layak meghafal dan mengamalkannya”.
Pada suatu kesempatan Imam Malik memberi nasihat kepada muridanya Imam Syafi’i, kala itu sang guru merasa takjub dengan kecerdasan muridnya, “Wahai Muhammad (Imam Syafi’i) bertakwalah kepada Allah Swt. jauhilah maksiat, sesungguhnya Allah telah meletakkan cahaya di dalam hati, maka janganlah engkau padamkan cahaya itu dengn kemaksiatan”.
Yang kedua, ikhlas karena Allah di dalam mencari ilmu. Seseorang tidak diperkenankan mencari ilmu karena ingin kemuliaan diri sendiri belaka. Hal ini memberi pengertian bahwa ketika mencari ilmu, maka harus menanggalkan semua kebanggaan. Mulai dari kebanggaan nasab, kedudukan, harta yang dimiliki. Semuanya dilepaskan demi terjun meraih ilmu, baik ilmu melalui tangan guru dan ulama’ dengan penuh keikhlasan kepada Allah.
Sejalan dengan firman Allah Swt :
وَمَاۤ أُمِرُوۤا۟ إِلَّا لِیَعۡبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِینَ لَهُ ٱلدِّینَ حُنَفَاۤءَ وَیُقِیمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَیُؤۡتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَۚ وَذَ ٰلِكَ دِینُ ٱلۡقَیِّمَةِ
Yang ketiga, penuntut ilmu harus selalu mengambil faidah atau manfaat dimanapun ia berada. Pencari ilmu mesti jeli melihat, mengamati, dan meraih dari tiap jengkal langkah hidupnya. Abu Al-Bahtani berkata, “Duduk bersama suatu kaum yang ilmunya lebih baik daripada saya, lebih saya sukai daripada duduk dengan kaum yang derajat ilmunya lebih rendah terhadap diriku”. Mengapa?, jawabannya, “Jika aku duduk orang yang dibawahku (keilmuannya) aku tidak bisa mengambil manfaat, tapi jika aku duduk dengan orang yang diatasku (keilmuannya) aku bisa mengambil manfaat sebanyak-banyaknya”.
Yang keempat, bersikap sederhana pada makanan dan minuman. Makan dan minum adalah kebutuhan siapa saja, namun hal ini tidak lantas untuk berlebih-lebihan, khususnya untuk pencari ilmu. Dalam wasiyatul hikmah, dari Lukman al-Hakim berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, jika perut telah terisi penuh maka pikiran akan beku, pikiran akan berhenti mengalir, dan badan akan lumpuh dalam ibadah”. Imam Syafi’i bekata, “Aku tidak pernah merasa kenyang sejak enam belas tahun silam, karena kenyang akan membebani badan, mengeraskan hati, dan menghilangkan kecerdasan”.
Semoga kita dapat menyerap ilmu yang diajarkan kepada dan mampu mengamalkannya dengan akhlaq al-karimah.
Editor: Kastolani Marzuki