"Sungguh itu tidaklah layak. Seandainya Dia (yang Maha Rahman) menghendaki kepadaku musibah, maka berhala-berhala itu tidak akan bisa menolongku. Karena sembahan itu tidak bekuasa atas sesuatu, tidak pula bisa memberi mudharat atau manfaat.”
Mengutip pendapat Thaba’thaba’i, ayat ini juga menjadi argumen untuk membantah kaum yang menyembah mahkluk-makhluk yang dekat dengan Allah SWT seperti malaikat, jin, dan orang-orang suci dengan harapan bahwa melalui perantara makhluk-makhluk itu, mereka bisa meraih kebajikan atau menangkis kemudharatan.
Sekalipun bisa memberi manfaat, maka itu adalah anugerah dari Allah SWT. Thaba’thba’i mengutip potongan QS Yunus: 3 yang berbunyi:
مَا مِنْ شَفِيْعٍ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ اِذْنِهٖۗ
Artinya: Tidak ada yang dapat memberi syafaat kecuali setelah ada izin-Nya.
Selanjutnya, dikatakan kalau ia menyembah kepada selain Allah SWT, maka ia telah melakukan kesesatan yang nyata (fi dhalal al-mubin), seperti yang dilakukan oleh kaumnya.
Zuhaili menilai, kata ini sebagai penegasan bahwa ia tidak ragu kepada Tuhan yang diimani oleh para utusan itu. Ayat ke-25 menjelaskan ucapan lugas pemuda itu dalam mengimani Tuhan yang disembah oleh para utusan. Wallahualam bissawab
Editor: Komaruddin Bagja