Sidratul Muntaha dalam Alquran, Tempat Nabi SAW Menerima Perintah Sholat 5 Waktu
Tatkala Sidratul Muntaha itu dipengaruhi oleh perintah Allah yang mencakup kesemuanya, maka berubahlah bentuknya. Pada saat itu tiada seorang pun dari makhluk Allah SWT yang mampu menggambarkan keindahannya.
Allah menurunkan wahyu-Nya kepadaku (Nabi SAW), dan Dia memfardukan atas diriku salat lima puluh kali setiap siang dan malam hari. Lalu saya turun hingga sampai ke tempat Musa berada. Musa bertanya, "Apakah yang telah difardukan oleh Tuhanmu atas umatmu?" Saya menjawab, "Lima puluh salat setiap siang dan malam hari."
Apa itu Sidratul Muntaha? Dikutip dari buku Karya Lengkap Nurcholish Madjid disebutkan bahwa Muhammad Asad seorang penerjemah Alquran dalam bahasa Inggris dan penafsir dengan menggunakan bahan-bahan kitab tafsir klasik, menerjemahkan Sidratul Muntaha dalam Surat al-Najm itu dengan “lote tree of the fartbest limit” (pohon lotus pada batas yang terjauh). Dan pohon lotus, dalam kata-kata Indonesia yang lebih “asli” ialah pohon teratai atau seroja.
Tapi lebih penting daripada arti harfiah kata-kata itu ialah makna simboliknya. Pohon lotus, khususnya lotus padang pasir seperti yang terdapat di kawasan Timur Tengah, sudah sejak zaman Mesir kuna dianggap sebagai lambang kebijakasanaan (wisdom).
Maka sebagaimana diterangkan oleh para ahli tafsir, Sidratul Muntahaa ialah lambang kebijaksanaan tertinggi dan terakhir yang dapat dicapai seorang manusia pilihan, yang tidak teratasi lagi, karena tidak ada kebijaksanaan yang lebih tinggi dari itu.
Jadi jika Nabi SAW telah sampai ke Sidratul Muntahaa, artinya ialah Nabi SAW telah mencapai kebijaksanaan atau wisdom yang tertinggi yang pernah dikaruniakan Tuhan kepada hamba atau makhluk-Nya. Nabi pun menerangkan bahwa di balik pohon Sidrah itu ada misteri yang hanya Allah yang tahu.