Sejarah Sholawat Badar, Lirik Beserta Arti dan Keutamaannya
Sambil merenung, Kiai Ali Manshur terus memainkan penanya di atas kertas, menulis syair-syair dalam Bahasa Arab. Dia memang dikenal mahir membuat syair sejak menjadi santri di Lirboyo, Kediri.
Kegelisahan Kiai Ali berbaur dengan rasa heran kerena malam sebelumnya dia bermimpi didatangi para sosok berjubah putih-hijau. Semakin heran lagi karena pada saat yang sama istrinya mimpi bertemu dengan Rasulullah.
Keesokan harinya, mimpi itu ditanyakan pada Habib Hadi Al-Haddar Banyuwangi. Itu adalah Ahli Badar, ya akhi, jawab Habib Hadi.
Kedua mimpi aneh dan terjadi secara bersamaan itulah yang mendorong dirinya menulis syair, yang kemudian dengan Shalawat Badar.
Keheranan muncul lagi karena keesokan harinya banyak tetangga yang datang kerumahnya sambil membawa beras, daging, dan barang-barang lain layaknya akan mendatangi orang yang akan punya hajat mantu.