Dalam riwayat Ibnu Abbas dijelaskan, tubuh Nabi Adam AS yang diusir dari surga dan diturunkan ke bumi sempat terbakar oleh matahari. Hal tersebut tubuh Nabi Adam menjadi hitam atau gosong.
Maka, Allah SWT menurunkan wahyu Nabi Adam untuk berpuasa selama tiga hari (tanggal 13, 14, 15). Ketika berpuasa pada hari pertama, sepertiga badannya menjadi putih. Puasa hari kedua, sepertiga bagiannya lagi menjadi putih. Puasa hari ketiga, sepertiga sisanya juga berubah dan badannya putih seluruhnya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
“Kekasihku (yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) mewasiatkan padaku tiga nasehat yang aku tidak meninggalkannya hingga aku mati: 1- berpuasa tiga hari setiap bulannya, 2- mengerjakan shalat Dhuha, 3- mengerjakan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1178).
Puasa sunnah juga biasa dikerjakan oleh Rasulullah SAW. Hal itu sebagaimana tertuang dalam hadits riwayat berikut ini:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُفْطِرُ أَيَّامَ الْبِيضِ فِي حَضَرٍ وَلَا سَفَرٍ
Artinya: "Rasulullah SAW biasa berpuasa pada ayyamul bidh ketika tidak bepergian maupun ketika bersafar." (HR An Nasa'i).
Itulah ulasan mengenai puasa Ayyamul Bidh lengkap beserta asal-usul atau sejarahnya. Semoga bisa memperoleh keberkahan bagi setiap yang mengerjakan ibadah sunnah tersebut. Wallahualam bissawab
Editor: Komaruddin Bagja