Perbedaan Kitab dan Suhuf dalam Islam, Begini Penjelasannya
Jibril tidak bawa apa-apa di tangannya. Dia hanya membacakan Al-Quran dengan suaranya. Lalu didengarkan oleh Nabi Muhammad SAW, masuk ke hati sanubari Beliau SAW dan tersimpan abadi.
Dalam sirah nabawiyah, diceritakan bahwa ketika Nabi SAW turun dari Gua Hira dan pulang menemui Khadijah, Beliau SAW sama sekali tidak membawa apapun di tangannya, entah itu kulit atau batu atau media apapun yang bertuliskan ayat Al Qur'an.
Tidak diceritakan bahwa Khadijah membawa potongan ayat yang baru saja turun. Seandainya memang Jibirl datang membawa benda bertuliskan ayat Al-Quran, pastilah benda itu juga akan dibawa serta dan ditunjukkan kepada sang pendeta.
Namun sejarah sama sekali tidak berbicara tentang ada ayat Al-Quran yang tertulis di atas sebuah media di masa itu. Ini sebuah bukti bahwa wahyu yang turun kala itu memang jelas bukan dalam bentuk tulisan, melainkan hanya dalam wujud suara dan perkataan saja.
Al Qur'an baru dibukukan pada masa Khalifah Utsman bin Affan ra karena banyaknya sahabat yang hafal Al Qur'an wafat dalam perang.
Dr Ghanim Al-Quduri dalam kitabnya, Rasmul Mushaf Dirasah Lughawiyah Tarikhiyah menyebutkan bahwa para shahabat yang diperintahkan untuk menulis wahyu cukup banyak jumlahnya, mencapai 43 orang. Yang paling terkenal adalah Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka'ab, Abdullah bin Saad, Hanzhalah ibnu Ar-Rabi’ dan lainnya.
Namun yang paling produktif dan menonjol untuk menuliskan wahyu dari semuanya memang Zaid bin Tsabit.
Wallahu A'lam
Editor: Kastolani Marzuki