Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Niat Mandi Jumat bagi Pria, Lengkap dengan Tata Cara dan Keutamaannya
Advertisement . Scroll to see content

Khutbah Jumat Renungan Hidup: Sikap Bijak Menghadapi Musibah

Kamis, 28 Oktober 2021 - 16:05:00 WIB
Khutbah Jumat Renungan Hidup: Sikap Bijak Menghadapi Musibah
Khutbah Jumat Renungan Hidup pentingnya bersikap bijak dalam menghadapi musibah. (Foto: ist)
Advertisement . Scroll to see content

Jadi syarat pertama dan paling utama untuk mendapatkan rahmat khusus itu adalah iman, yaitu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Beriman kepada Allah artinya meyakini dengan pasti dan sepenuh hati bahwa Allah ada tapi tidak serupa dengan segala yang ada, serta tidak menentang Allah dalam segala apa yang Ia tentukan bagi para hamba, baik ketentuan itu manis atau pun pahit, baik maupun buruk, menyenangkan atau pun menyusahkan, membahagiakan atau pun menyengsarakan. Sedangkan beriman kepada Rasul artinya percaya dengan pasti dan sepenuh hati tentang segala apa yang beliau beritakan, baik berkaitan dengan hukum di dunia atau pun berkaitan dengan apa yang akan terjadi di alam barzakh dan akhirat kelak.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Ayat-ayat di atas juga menjelaskan kepada kita bahwa rahmat Allah yang disertai kemulian derajat akan diberikan kepada orang-orang yang pada saat ditimpa musibah, mereka mengatakan “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” serta meyakini maknanya.

“Inna lillah” artinya ridla dan menerima segala ketentuan Allah dan tidak protes dan menentangnya. Baik ketentuan itu sesuai dengan apa yang kita inginkan atau pun tidak. Baik ketentuan itu membuat kita senang atau pun susah. Yang demikian itu karena kita harus meyakini secara pasti bahwa diri kita dan apa yang kita miliki adalah milik Allah subhanahu wa ta’ala. Oleh karena itu, Allah berhak bertindak apa saja yang Ia kehendaki terhadap segala apa yang menjadi milik-Nya.

Hadirin rahimakumullah,

Diri kita, anak kita, pasangan hidup kita, rumah, harta, mobil bahkan nyawa kita sejatinya adalah milik Allah ta’ala. Kesehatan bukanlah milik kita. Jika Allah sebagai pemiliknya mengambilnya dari kita lalu kita dijadikan sakit, maka kita wajib ridla dan sabar. Harta juga bukanlah milik kita. Jika Allah sebagai pemiliknya mengambilnya dari kita lalu kita dijadikan miskin, maka kita wajib ridla dan sabar.

Anak dan pasangan kita bukan pula milik kita. Jika Allah sebagai pemiliknya mengambil mereka dan mewafatkan mereka, maka kita wajib ridla dan sabar. Kepemilikan kita terhadap itu semua hanyalah kepemilikan yang majazi, bukan kepemilikan yang hakiki. Semuanya itu sejatinya hanyalah amanah yang Allah titipkan kepada kita. Karena hanya titipan, jika sewaktu-waktu diambil oleh pemiliknya, maka kita wajib menerima dengan sikap ridla dan menghadapinya dengan penuh kesabaran. Karena hanya titipan, maka kita tidak boleh dan tidak sepatutnya menyombongkan diri, sebanyak apa pun harta kita, setampan dan secantik apa pun kita.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut