"Barang siapa mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun mencintai pertemuan dengannya. Dan barang siapa tidak mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun tidak mencintai pertemuan dengannya." (HR Bukhari).
Bila kita cinta Allah, maka kita harus menyambut apapun yang datang dan diserukan-Nya, termasuk Ramadhan. Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menyatakan adalah sebuah kebohongan besar bila seseorang mencintai sesuatu tetapi ia tidak memiliki kecintaan kepada sesuatu yang berkaitan dengannya. Al-Ghazali menulis:
"Bohonglah orang yang mengaku mencintai Allah SWT tetapi ia tidak mencintai rasul-Nya, bohonglah orang yang mengaku mencintai Rasul-Nya tetapi ia tidak mencintai kaum fakir dan miskin, dan bohonglah orang yang mengaku mencintai surga tetapi ia tidak mau mentaati Allah SWT."
Karena itu, Rasulluh SAW dan para sahabat selalu menyambut Ramadhan dengan suka cita. Bahkan sejak Rajab dan Syaban, mereka telah mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambutnya, termasuk dengan memperbanyak puasa dan amalan sunah lainnya. Siti Aisyah berkata:
"Rasulullah SAW tidak pernah berpuasa dalam satu bulan yang lebih banyak dari puasanya pada bulan Syaban; ada kalanya sebulan penuh hanya sedikit yang tidak puasa." (HR Bukhari Muslim).