Mengenal Penyakit Paru Obstruktif Kronik, Disebabkan karena Asap Rokok dan Polusi Udara
"Upaya ini dapat dilakukan melalui kegiatan skrining dan diagnosis PPOK secara terintegrasi. Pemerintah melalui Kemenkes berkomitmen untuk memperluas akses skrining serta pembaruan edukasi PPOK bagi nakes dan awam,” tutur Syahril melalui keterangannya belum lama ini.
Faktor Risiko
Faktor risiko utama PPOK adalah merokok (aktif dan pasif) dan paparan polutan udara, termasuk asap dan zat berbahaya di lingkungan sekitar. Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 menunjukkan prevalensi PPOK mencapai 3,7 persen.
Inisiatif Global untuk PPOK (GOLD) 2023 memperkirakan angka prevalensi PPOK hingga 2060 akan terus meningkat seiring meningkatnya jumlah orang yang merokok. Selain pengaruhnya pada kesehatan, PPOK juga mempunyai dampak signifikan terhadap ekonomi, baik akibat biaya perawatan atau karena hilangnya produktivitas pasien yang mencapai miliaran dolar setiap tahunnya.
Guru Besar Departmen Pulmonologi dan Kedokteran Resparasi FKUI Wiwien Heru Wiyono mengatakan, penyebab pertama penyakit paru kronik ini adalah asap rokok dan didukung pengaruh zat lainnya yang ada di udara.
"Bukti nyata sudah ada. Penyakit paru ini akibat merokok. Selama angka merokok tinggi, PPOK akan meningkat. Penelitian kami, pada orang yang tidak merokok itu lebih tinggi angka prevelensinya. Berarti bukan akibat asap rokok saja tapi juga karena polusi. Tapi utamanya karena merokok," kata dr Wiwien.