Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Kasus Gangguan Jiwa Berat di Bandung Naik, Kesehatan Mental Jadi Perhatian
Advertisement . Scroll to see content

Kesehatan Mental Anak Tak Boleh Diabaikan, Kini Skrining Bisa Dilakukan Online

Senin, 29 Juni 2026 - 18:22:00 WIB
Kesehatan Mental Anak Tak Boleh Diabaikan, Kini Skrining Bisa Dilakukan Online
Ilustrasi orang tua dan anak. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id – Perhatian terhadap kesehatan mental anak perlu diberikan sejak usia dini, sama pentingnya dengan memantau pertumbuhan fisik maupun kemampuan akademiknya. Kenapa begitu?

Psikolog menilai, deteksi dini terhadap kondisi mental dan emosional anak dapat membantu orang tua mengenali potensi masalah sejak awal sehingga penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat.

Dijelaskan Psikolog Klinis Anak dan Remaja, Ayoe Sutomo, M.Psi, kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan sosial (SQ) merupakan bekal penting yang harus dibangun sejak masa kanak-kanak. Menurutnya, kedua aspek tersebut akan menentukan kemampuan anak menghadapi berbagai tantangan ketika dewasa.

Ilustrasi anak-anak. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi anak-anak. (Foto: Istimewa)

"Dalam dunia yang penuh tantangan, kelak anak-anak saat dewasa akan dituntut memiliki kecerdasan emosi berupa kemampuan mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri sendiri secara sehat," kata Ayoe dalam sesi edukasi Family's Days Out Roadshow to Bandung, dalam keterangan resminya, Senin (29/6/2026).

"Begitu juga dengan kecerdasan sosial, di mana anak mampu memahami orang lain, berinteraksi secara efektif, dan membangun hubungan yang bermakna dengan orang lain," tambah Ayoe.

Ayoe melanjutkan, perkembangan emosi anak tidak hanya dipengaruhi faktor biologis, tetapi juga lingkungan tempat dia tumbuh, termasuk pola pengasuhan di dalam keluarga. Karena itu, setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan yang berbeda dalam proses tumbuh kembangnya.

"Ada anak yang memiliki temperamen bawaan mudah (easy child), tapi ada juga yang sulit atau lambat dan butuh adaptasi. Ini semua terkait dengan perkembangan otak di lima tahun pertama," ungkap Ayoe.

Dia menambahkan, "Faktor genetik menyumbang kurang lebih 50 persen pada stabilitas emosi. Tetapi pola pelekatan, gaya pengasuhan, stabilitas emosi orang tua, dan kualitas hubungan pernikahan ikut mempengaruhi perkembangan emosi anak."

Menurut Ayoe, salah satu langkah yang bisa dilakukan orang tua untuk memantau perkembangan tersebut adalah melalui skrining kesehatan mental dan emosional sejak dini. Kini, proses itu tidak lagi harus dilakukan secara tatap muka karena sudah tersedia layanan skrining berbasis digital.

"Skrining ini bisa menjadi langkah awal jika ditemukan ada penyimpangan atau ada sebagian aspek emosi yang belum berkembang, sehingga orang tua bisa melakukan stimulasi dan terapi sejak dini," katanya.

Layanan skrining tersebut hadir melalui fitur Psikolog Corner by Teman Bumil & Parenting. Orang tua dapat melakukan pemeriksaan mandiri menggunakan Kuesioner Masalah Mental Emosional (KMME), instrumen skrining resmi dari Kementerian Kesehatan RI yang diperuntukkan bagi anak usia 3 hingga 6 tahun.

Melalui fitur tersebut, orang tua hanya perlu menjawab delapan pertanyaan untuk mengetahui hasil skrining. Sistem akan memberikan hasil berupa kategori normal, perlu konsultasi, atau terdapat indikasi penyimpangan yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.

Manager Teman Bumil & Parenting, Intan Anindyana Hapsari, mengatakan kehadiran layanan digital ini diharapkan dapat memudahkan lebih banyak orang tua melakukan deteksi dini tanpa harus menunggu munculnya gejala yang lebih serius.

"Skrining perkembangan mental dan emosi cukup dilakukan dengan menjawab delapan pertanyaan, dan akan langsung keluar hasilnya: normal, perlu konsultasi, atau ada penyimpangan," ujar Intan.

"Untuk mendukung fitur ini, pengunjung website juga bisa mendapatkan edukasi terkait kesehatan mental dan emosional anak melalui artikel, video, dan kelas edukasi para ahli," sambungnya.

Ke depan, layanan tersebut juga akan dilengkapi dengan fitur skrining kesiapan sekolah, tes minat dan bakat, hingga layanan telekonsultasi psikolog melalui chat maupun video call.

Sementara itu, Psikolog Klinis Anak dan Remaja dari d'Fun Station Bandung, Melissa Luckyanti, M.Psi., mengungkapkan bahwa saat memberikan konsultasi kepada para orang tua dalam kegiatan Family's Days Out Roadshow to Bandung, dia menemukan banyak ibu yang sebenarnya membutuhkan ruang untuk membicarakan persoalan pengasuhan maupun kondisi mental mereka sendiri.

"Dari begitu banyak Mums yang berkonsultasi, ternyata saya menemukan kalau sebagian besar orang tua, terutama ibu, membutuhkan tempat bicara untuk mengeluarkan isi hati yang selama ini mereka pendam," katanya.

Melissa menjelaskan, "Selama ini mereka kesulitan untuk bicara dan curhat dengan orang yang tepat. Ada ibu yang kesulitan dengan kemampuan anak bersosialisasi, lalu banyak juga ibu yang merasa tidak mampu menjadi orang tua yang baik karena mereka sendiri memiliki masalah mental dan emosional yang belum tuntas. Misalnya karena masih ada efek baby blues, atau masalah yang timbul dari hubungan dengan pasangan," tutur Melissa.

Menurut Melissa, kondisi tersebut menunjukkan bahwa menjaga kesehatan mental anak tidak dapat dipisahkan dari kesehatan mental orang tua. Semakin baik kondisi emosional orang tua, semakin besar pula peluang anak tumbuh dalam lingkungan yang aman dan mendukung perkembangan psikologisnya.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut