Kekurangan Vitamin D: Kenapa Banyak Orang Indonesia Tidak Menyadarinya?
JAKARTA, iNews.id - Indonesia adalah negara tropis dengan sinar matahari sepanjang tahun. Namun, kondisi ini tidak serta-merta menjamin kecukupan vitamin D pada masyarakatnya.
Kenyataannya, lebih dari 70 persen orang Indonesia diperkirakan mengalami kekurangan vitamin D, sebuah kondisi yang sering kali tidak disadari karena gejalanya sangat mudah disalahartikan sebagai kelelahan biasa.
Vitamin D adalah vitamin larut lemak yang bekerja seperti hormon dalam tubuh. Fungsinya melampaui sekadar menjaga kesehatan tulang. Vitamin ini berperan dalam penyerapan kalsium, mendukung sistem imun, mengatur suasana hati, hingga memengaruhi produksi energi di tingkat sel.
Tubuh memproduksi vitamin D saat kulit terpapar sinar ultraviolet B (UVB) dari matahari. Selain itu, vitamin ini juga bisa diperoleh dari makanan seperti ikan berlemak, kuning telur, dan produk susu yang difortifikasi, serta dari suplemen.
Kadar vitamin D dalam darah yang dianggap normal berada di atas 30 ng/mL. Kadar di bawah 20 ng/mL disebut defisiensi, sementara 20 sampai 29 ng/mL masuk kategori insufisiensi.
Banyak orang menduga hidup di negara tropis otomatis mencukupi kebutuhan vitamin D. Padahal, ada beberapa faktor yang menyebabkan defisiensi tetap umum terjadi:
1. Banyak waktu dihabiskan di dalam ruangan. Pekerja kantoran, pelajar, dan pengguna kendaraan pribadi jarang mendapat paparan matahari yang cukup.
2. Penggunaan tabir surya dan pakaian tertutup yang membatasi paparan UVB langsung ke kulit.
3. Warna kulit yang lebih gelap membutuhkan waktu paparan matahari lebih lama untuk memproduksi jumlah vitamin D yang sama.
4. Kondisi medis tertentu seperti obesitas, gangguan penyerapan usus, atau masalah fungsi hati yang memengaruhi metabolisme vitamin D.
5. Usia lanjut, karena kemampuan kulit memproduksi vitamin D berkurang seiring bertambahnya usia.