Kebiasaan Buruk Diam-Diam Merusak Tubuh, Dampaknya Baru Terasa Setelah Usia 40 Tahun
JAKARTA, iNews.id – Banyak orang merasa tubuhnya baik-baik saja saat masih muda. Namun tanpa disadari, sejumlah kebiasaan buruk yang dilakukan setiap hari bisa menjadi bom waktu bagi kesehatan dan baru menunjukkan dampaknya ketika memasuki usia 40 tahun.
Perawat sekaligus edukator kesehatan Rizal melalui akun X @afrkml mengungkap lima kebiasaan yang paling sering merusak kesehatan tubuh jika terus dilakukan dalam jangka panjang. “TOP 5 kebiasaan buruk yg PALING NGERUSAK tubuh kita!” tulis Rizal dalam unggahannya.
Kebiasaan pertama yang disoroti adalah terlalu sering mengonsumsi makanan ultra-proses atau ultra processed food (UPF). Jenis makanan ini meliputi nugget, sosis, ham, makanan tinggi gula, hingga gorengan yang banyak digemari masyarakat.
Meski demikian, Rizal menegaskan makanan tersebut tidak harus dihindari sepenuhnya. Konsumsinya hanya perlu dibatasi agar tidak menjadi bagian utama dalam pola makan sehari-hari.
“Bukan berarti gak boleh makan gituan samsek yah, tp dibatesin aja 2–3x sebulan,” katanya.
Menurut Rizal, berbagai penelitian menunjukkan konsumsi UPF secara berlebihan berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, penyakit jantung, beberapa jenis kanker, hingga kematian dini.
Selain pola makan, kurang bergerak dan minim aktivitas fisik juga masuk dalam daftar kebiasaan yang paling merugikan tubuh. Gaya hidup modern yang membuat seseorang lebih banyak duduk di depan komputer atau gawai dinilai menjadi salah satu penyebab utama berbagai penyakit kronis.
Rizal mengatakan masyarakat tidak perlu langsung melakukan olahraga berat untuk memulai hidup sehat. Aktivitas sederhana seperti berjalan kaki selama 10 hingga 15 menit setiap hari sudah memberikan manfaat bagi tubuh.
Selain itu, naik turun tangga, berdiri secara berkala saat bekerja, atau melakukan latihan beban ringan di rumah juga dapat membantu menjaga kebugaran. “Tubuh tuh gak didesain buat duduk doang seharian soalnya,” ujarnya.
Kebiasaan buruk berikutnya adalah kurang tidur atau sering begadang. Menurut Rizal, tidur memiliki peran penting dalam proses pemulihan tubuh, menjaga keseimbangan hormon, serta mendukung kesehatan mental.
Dia mengingatkan orang dewasa idealnya mendapatkan waktu tidur selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam. “Target realistis durasi tidur normal tuh 7-9 jam buat dewasa,” tulisnya.
Untuk meningkatkan kualitas tidur, Rizal menyarankan masyarakat memiliki jadwal tidur yang konsisten, mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur, serta membatasi konsumsi minuman berkafein pada malam hari.
Selain itu, kondisi perut buncit yang sering dianggap sekadar masalah penampilan ternyata juga menjadi sinyal kesehatan yang tidak boleh diabaikan. Lemak berlebih di area perut diketahui berkaitan erat dengan meningkatnya risiko penyakit metabolik seperti diabetes, tekanan darah tinggi, dan gangguan jantung.
Tak hanya faktor fisik, kesehatan mental juga menjadi perhatian. Rizal menilai stres berkepanjangan yang tidak dikelola dengan baik dapat memberikan dampak serius bagi tubuh.
Stres kronis dapat memengaruhi kualitas tidur, meningkatkan tekanan darah, mengganggu sistem kekebalan tubuh, hingga memperbesar risiko berbagai penyakit dalam jangka panjang.
Sebab itu, dia mengajak masyarakat untuk mulai memperhatikan kesehatan sejak dini dan tidak menunggu hingga gejala penyakit muncul. “Sayangi dirimu sendiri krn tubuhmu sayang banget sama kamu,” kata Rizal.
Pesan tersebut menjadi pengingat menjaga kesehatan tidak selalu harus dilakukan dengan langkah besar. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten justru bisa memberikan dampak besar untuk mencegah berbagai penyakit saat usia bertambah.
Editor: Dani M Dahwilani