Kapan Anak Bisa Belajar Berpuasa? Ini Kata Ahli Gizi
Anak yang sudah mampu mengomunikasikan rasa haus, lapar, atau lemas dengan baik dinilai lebih siap menjalani puasa. Selain itu, anak yang tidak mudah sakit saat terjadi perubahan pola makan juga cenderung memiliki daya tahan tubuh yang lebih stabil.
Orang tua pun disarankan aktif memantau respons fisik dan perilaku anak selama berpuasa. Jika anak tetap aktif, tidak terlihat lemas berlebihan, mampu berkonsentrasi, dan warna urinnya tidak terlalu pekat, maka kondisi tersebut menandakan tubuhnya masih dalam batas aman.
Sebaliknya, bila anak tampak sangat pucat, gemetar, pusing, atau sulit fokus sebelum waktu berbuka, itu menjadi sinyal bahwa dia belum mampu menjalani puasa penuh. Dalam kondisi seperti ini, orang tua tidak perlu ragu untuk menghentikan puasa demi menjaga kesehatan anak.
Ihda juga menegaskan, secara agama, membatalkan puasa bagi anak yang belum baligh demi alasan kesehatan tidak dianggap berdosa.
“Justru sejalan dengan prinsip menjaga jiwa (hifz an-nafs),” katanya.
Dengan memahami kapan anak bisa belajar berpuasa dan memperhatikan kondisi kesehatannya, orang tua dapat membimbing anak menjalani ibadah Ramadan secara aman dan menyenangkan. Pendekatan bertahap dan penuh perhatian menjadi kunci agar nilai spiritual tetap tercapai tanpa mengorbankan kesehatan anak.
Editor: Dani M Dahwilani