Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : 1,2 Miliar Orang di Dunia Alami Gangguan Mental, Kecemasan Mendominasi!
Advertisement . Scroll to see content

Gen Z Rentan Alami Gangguan Mental, Medsos Biang Keroknya?

Jumat, 22 Mei 2026 - 15:30:00 WIB
Gen Z Rentan Alami Gangguan Mental, Medsos Biang Keroknya?
Ilustrasi anak bergejala depresi. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Gen Z menjadi kelompok usia yang paling rentan mengalami gangguan mental saat ini. Fenomena tersebut terungkap dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal The Lancet.

Penelitian itu menemukan bahwa kelompok usia 15 hingga 19 tahun kini menjadi kelompok dengan beban gangguan mental tertinggi di dunia. Gangguan kecemasan dan depresi menjadi masalah kesehatan mental yang paling banyak dialami.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar, apakah media sosial menjadi salah satu penyebab utama memburuknya kesehatan mental Gen Z? Simak jawaban selengkapnya di artikel ini.

Tekanan Dunia Digital Dinilai Memicu Gangguan Mental

Para ahli menilai media sosial memang bukan satu-satunya faktor, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologis anak muda.

Gen Z merupakan generasi yang tumbuh bersama internet dan media sosial. Aktivitas harian mereka sangat dekat dengan platform digital seperti TikTok, Instagram, hingga X. Paparan konten tanpa henti membuat banyak anak muda rentan mengalami tekanan mental.

Mulai dari tuntutan tampil sempurna, standar kecantikan yang tidak realistis, budaya membandingkan diri, hingga rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO) disebut dapat memicu kecemasan dan stres berlebihan.

Selain itu, cyberbullying atau perundungan di dunia maya juga menjadi ancaman serius bagi kesehatan mental remaja dan dewasa muda.

Depresi dan Kecemasan Naik Tajam

Dalam studi tersebut, angka gangguan kecemasan meningkat hingga 158 persen sejak 1990, sementara depresi naik 131 persen secara global.

Penulis utama penelitian, Dr. Damian Santomauro dari University of Queensland Australia, menyebut anak muda saat ini menghadapi tekanan hidup yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya.

Selain pengaruh media sosial, faktor lain seperti tekanan akademik, ketidakpastian ekonomi, konflik sosial, hingga dampak pandemi Covid-19 juga ikut memperburuk kondisi mental Gen Z.

Pandemi disebut meninggalkan dampak psikologis jangka panjang akibat isolasi sosial, perubahan pola belajar, dan berkurangnya interaksi langsung selama beberapa tahun terakhir.

Di sisi lain, para ahli juga menilai meningkatnya angka gangguan mental pada Gen Z dipengaruhi oleh kesadaran yang semakin tinggi terhadap kesehatan mental.

Jika dulu banyak orang memilih diam karena takut stigma, kini generasi muda cenderung lebih terbuka untuk mencari bantuan dan membicarakan kondisi psikologis mereka.

Meski demikian, para ahli mengingatkan bahwa kesehatan mental anak muda tetap perlu menjadi perhatian serius.

Pentingnya Batasi Penggunaan Medsos

Untuk menjaga kesehatan mental, para ahli menyarankan Gen Z mulai lebih bijak menggunakan media sosial. Membatasi waktu bermain gadget, menjaga hubungan sosial di dunia nyata, tidur cukup, rutin berolahraga, dan mencari bantuan profesional saat dibutuhkan menjadi langkah penting untuk mencegah gangguan mental semakin parah.

Para peneliti juga menekankan bahwa media sosial seharusnya tidak sepenuhnya disalahkan. Platform digital dapat menjadi ruang positif jika digunakan secara sehat dan seimbang.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut