Dokter PPDS Wajib Tes Kesehatan Jiwa Berkala imbas Priguna Diduga Punya Fetish Seksual Orang Pingsan
JAKARTA, iNews.id - Dokter Priguna Anugerah Pratama, dokter PPDS Anestesi Universitas Padjadjaran (Unpad) pelaku pemerkosaan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, diduga memiliki fetish seksual orang pingsan.
Kemungkinan itu muncul setelah dr Priguna Anugerah Pratama melakukan pemerkosaan terhadap anak pasien di RSHS Bandung yang dibuat tidak sadar karena pengaruh obat bius. Ya, Priguna menyuntikkan obat bius kepada korban sebelum melakukan aksi bejatnya.
Dari temuan ini, Kementerian Kesehatan pun mengeluarkan aturan baru bagi peserta PPDS yaitu bagi peserta PPDS seluruh angkatan diwajibkan menjalani pemeriksaan kesehatan jiwa secara berkala.
Menurut Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono, hal itu dilakukan sabagai antisipasi adanya kejadian serupa terulang lagi di kemudian hari, terlebih para peserta didik yang akan terbiasa menggunakan obat bius.
Dokter PPDS Unpad Pelaku Pemerkosaan Tidak Bisa Praktik Lagi, STR Resmi Dicabut!
“Kami akan melakukan pemeriksaan mental kepada para peserta pendidikan spesialis sehingga peristiwa-peristiwa ini tidak terjadi. Tapi, kalau dilihat keseluruhan ini adalah peristiwa murni kriminal, tidak berkaitan dengan program pendidikan,” ungkap Wamenkes Dante saat ditemui di Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (10/4/2025).
Tes kesehatan jiwa tersebut adalah Minnesota Multiphasic Personality Inventory (MMPI) atau pemeriksaan psikologi yang digunakan untuk mengevaluasi kepribadian dan kondisi psikologis seseorang.
Tegas! Kemenkes Hentikan PPDS Anestesi di RSHS Buntut Kasus Pemerkosaan oleh Dokter Residen
Tes tersebut akan mengetahui kepribadian individu hingga mendeteksi gangguan mental peserta PPDS sebelum nantinya melanjutkan pendidikan hingga mendapat izin praktik.
Dokter PPDS Pemerkosa Anak Pasien di RSHS Bandung Diduga Miliki Kelainan Seksual
“Nanti akan ada cek namanya MMPI, ini pemeriksaan untuk kesehatan jiwa terlebih lagi untuk peserta didik yang menggunakan obat-obat bius seperti anestesi. Tentu kami akan bekerja sama dengan kolegium pendidikan anestesi,” tambah Wamenkes.
Editor: Muhammad Sukardi