Cuci Piring Pakai Spons Rusak, Mikroplastik Bisa Menempel di Makanan dan Masuk Tubuh
Menurut Bang Sap, risiko pelepasan mikroplastik meningkat ketika spons sudah mulai aus, kasar, atau hancur di bagian tepinya. Kondisi itu membuat lebih banyak partikel plastik terlepas dan berpotensi menempel pada peralatan makan yang telah dicuci.
“Spons yang udah mulai rusak, kasar, atau hancur di pinggirnya, justru ngerontokin lebih banyak partikel. Jadi, spons butut yang kamu pakai berbulan-bulan demi hemat itu sebenarnya paling banyak ngasih bahaya buat tubuhmu sendiri,” katanya.
Dia juga menyinggung hasil studi yang dirilis pada 2026. Penelitian tersebut menemukan jutaan rumah tangga menghasilkan ratusan ton mikroplastik setiap tahun hanya dari aktivitas mencuci piring menggunakan spons berbahan sintetis.
"Studi tahun 2026 dari Universitas Bonn menemukan jutaan rumah tangga melepaskan ratusan ton mikroplastik per tahun cuma dari nyuci piring doang. Dan partikel ini udah ditemukan di darah, di usus, bahkan di plasenta manusia. Ngeri kali,” ucap dia.
Temuan itu semakin memperkuat kekhawatiran para peneliti mengenai paparan mikroplastik terhadap kesehatan manusia. Meski dampak jangka panjangnya masih terus diteliti, keberadaan mikroplastik di berbagai organ tubuh menunjukkan paparan tersebut sudah terjadi secara luas.
Sebab itu, Bang Sap mengimbau masyarakat mengganti spons cuci piring secara berkala dan tidak menunggu hingga kondisinya rusak parah. Langkah sederhana tersebut dinilai dapat membantu mengurangi potensi paparan mikroplastik dari aktivitas sehari-hari di dapur.
“Pokoknya, jangan pakai satu spons sampai butut. Begitu rusak, ganti. Sayangi dompet iya, tapi sayangi juga tubuhmu. Karena bersih itu nggak cukup dilihat dari mata. Yang kelihatan mengkilap belum tentu bebas dari yang nggak kelihatan,” katanya.
Editor: Dani M Dahwilani