Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BNPP Dorong Hidup Sehat ASN Lewat Pemeriksaan Kesehatan Gratis
Advertisement . Scroll to see content

Benarkah Makan Buah Bisa Bikin Asam Urat? Guru Besar IPB Kasih Paham!

Jumat, 03 Juli 2026 - 16:23:00 WIB
Benarkah Makan Buah Bisa Bikin Asam Urat? Guru Besar IPB Kasih Paham!
Ilustrasi makan buah. (Foto: Ilustrasi AI)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.idBuah dikenal sebagai makanan sehat karena kaya vitamin, mineral, dan serat. Namun, belakangan muncul anggapan bahwa konsumsi buah dapat memicu asam urat. Lantas, benarkah makan buah bisa menyebabkan asam urat?

Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB University, Prof Antonius Suwanto, menjelaskan bahwa yang perlu diperhatikan bukanlah buahnya, melainkan jumlah fruktosa atau gula alami yang dikonsumsi.

Fruktosa merupakan salah satu jenis gula sederhana yang banyak ditemukan pada buah-buahan, terutama buah yang memiliki rasa sangat manis. Selain itu, fruktosa juga terdapat dalam gula pasir, minuman manis, permen, kue, dan berbagai makanan olahan.

Menurut Prof Antonius, fruktosa memiliki mekanisme metabolisme yang berbeda dibandingkan glukosa.

"Glukosa digunakan oleh berbagai sel tubuh sebagai sumber energi. Sementara fruktosa, sebagian besarnya dimetabolisme di hati melalui jalur khusus yang membuatnya dapat langsung diubah menjadi lemak," ujarnya dalam IPB Podcast yang tayang di kanal YouTube IPB TV, dikutip Jumat (3/7/2026).

Dia menjelaskan, proses metabolisme fruktosa membutuhkan energi dalam jumlah besar yang berasal dari adenosin trifosfat (ATP). Ketika ATP digunakan secara berlebihan, tubuh akan menghasilkan senyawa turunan yang kemudian dikonversi menjadi asam urat.

"Kalau ada banyak fruktosa dikonsumsi, itu akan dijadikan lemak dan akhirnya akan ada produk sampingnya berupa asam urat," jelas pakar mikrobiologi, bioteknologi, dan genetika molekuler tersebut.

Meski demikian, Prof Antonius menegaskan masyarakat tidak perlu takut mengonsumsi buah. Buah tetap menjadi bagian penting dari pola makan sehat selama dikonsumsi dalam jumlah yang wajar.

Dia menjelaskan bahwa kemampuan tubuh mengubah fruktosa menjadi lemak sebenarnya merupakan mekanisme evolusi yang dahulu membantu manusia bertahan hidup ketika makanan sulit diperoleh. Pada masa kini, kondisi tersebut justru berubah karena fruktosa mudah ditemukan dalam berbagai makanan dan minuman.

"Dengan kondisi manusia sekarang ada banyak sumber fruktosa di mana-mana. Kalau tidak mengonsumsinya dengan lebih bijaksana, yang tadinya untuk survival malah bisa menyebabkan penyakit," katanya.

Karena itu, masyarakat dianjurkan tetap mengonsumsi buah secara seimbang dan tidak berlebihan. Pola makan yang bijak dinilai penting untuk membantu menekan risiko asam urat, obesitas, hipertensi, maupun gangguan metabolisme lainnya.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut