Belum Kuat Lari, Japanese Walking Jadi Alternatif bagi Pemula Jaga Kesehatan Jantung
Dia menjelaskan, Japanese Walking dilakukan dengan pola jalan santai selama tiga menit lalu dilanjutkan jalan cepat selama tiga menit. Pola tersebut dilakukan berulang selama kurang lebih 30 menit.
Menurutnya, saat memasuki fase jalan cepat, tubuh akan bekerja lebih keras sehingga jantung mengalami kondisi kekurangan oksigen sementara. Kondisi ini disebut dapat merangsang pembentukan cabang pembuluh darah baru atau angiogenesis.
“Pas jalan cepat, otot jantung bakal sedikit kurang oksigen sementara. Nah, ini murni buat mancing tubuh ngebentuk cabang pembuluh darah baru atau angiogenesis biar aliran oksigen ke jantung makin lancar,” ujar dr Cecep.
Tak hanya baik untuk jantung, metode Japanese Walking juga disebut mampu meningkatkan kapasitas pernapasan dan membuat pembuluh darah lebih fleksibel. Dampaknya, tekanan darah menjadi lebih stabil dan penyerapan gula darah oleh otot bisa berjalan lebih optimal.
“Plus ritme gas rem ini terbukti nambah kapasitas nafas kita. Bikin pembuluh darah lebih lentur buat stabilin tensi dan maksa otot nyerap gula darah lebih optimal,” ujarnya.