Masyarakat Tionghoa biasanya mengubah kata-kata atau ucapan yang tidak bermakna negatif, misalnya mengatakan "Ada yang pergi", bukan "Ada yang meninggal".
2. Menyapu atau Membuang Sampah
Menyapu dan membuang sampah tentu menjadi kebiasaan yang baik untuk menjaga lingkungan agar tetap bersih. Namun, hal tersebut tidak berlaku bagi masyarakat Tionghoa yang merayakan Imlek.
Bagaimana Hukum Mengucapkan Selamat Imlek dalam Islam? Simak Penjelasannya!
Menyapu dan membuang sampah bagi masyarakat Tionghoa di saat perayaan Imlek dianggap menyapu kekayaan dan membuang keberuntungan.
3. Keramas dan Potong Rambut
Keramas dan potong rambut merupakan dua hal yang pantang untuk dilakukan di perayaan Imlek. Adapun, dalam bahasa Mandarin, rambut (发, fa) memiliki pelafalan (dan karakter yang sama) dengan fa dalam fa cai (发财), yang berarti 'menjadi kaya'.
Sambut Imlek, Kawasan Pecinan Semarang Mulai Bersolek
Oleh sebab itulah masyarakat Tionghoa menganggap jika keramas dan potong rambut di hari Imlek dapat membawa kesialan bagi dirinya maupun keluarganya.
4. Mencuci Pakaian
Mencuci pakaian juga menjadi salah satu hal yang tidak boleh dilakukan saat Hari Raya Imlek. Tak hanya pantang dilakukan di hari pertama Kalender Lunar, namun juga di hari kedua.
Sebab, hari pertama dan kedua di Kalender Lunar dianggap sebagai hari lahir Dewa Air. Mencuci pakaian yang tentunya menggunakan air dianggap tidak menghormati Dewa Air.
Diyakini jika membuang air setelah mencuci pakaian berarti membuang kekayaan di sepanjang tahun.
5. Memberikan Hadiah Jam, Gunting, dan Buah Pir
Di hari perayaan Imlek, masyarakat Tionghoa mempercayai jika memberikan barang-barang tertentu akan mendatangkan keburukan. Barang-barang yang dimaksud adalah jam, gunting, dan buah pir.
6. Menggunakan Gunting dan Pisau
Ada anggapan jika menggunakan gunting pada hari pertama perayaan Imlek berarti mengajak orang lain untuk bertengkar atau mengundang permusuhan di masa yang akan datang.