Dulu Dukun Hebat, sekarang Tobat!
Selain itu, Ria juga diwajibkan menjalani puasa selama 40 hari di sebuah sumber mata air, tanpa makan dan minum, dalam kondisi yang sangat menguras tenaga dan jauh dari kehidupan normal.
Menurut Ria, selama menjalani ritual tersebut ia justru tidak merasakan penderitaan sebagaimana yang dibayangkan banyak orang. Dendam dan amarah yang terlanjur menguasai dirinya kala itu membuat rasa sakit, lapar, dan lelah seolah tak berarti. Perasaan sakit hati akibat hinaan dan perlakuan yang ia terima menjadi bahan bakar yang menguatkan tekadnya, hingga ia mampu menjalani proses ekstrem tersebut tanpa rasa takut maupun penyesalan.
Fokusnya hanya satu, yaitu mencapai tujuan yang diyakininya dapat membalas rasa sakit yang pernah ia alami. Dalam kondisi tersebut, logika dan empati perlahan memudar, tergantikan oleh keyakinan bahwa semua pengorbanan yang dilakukan adalah sesuatu yang wajar.
Puncak dari perjalanan kelam itu terjadi ketika Ria menerima klien untuk mencelakai seseorang yang ternyata merupakan cucu dari seorang sesepuh di Kalimantan. Tindakan tersebut berujung pada balasan spiritual dari sang sesepuh, yang dampaknya sangat berat bagi Ria. Peristiwa inilah yang menjadi titik balik besar hingga akhirnya ia memutuskan untuk bertobat dan meninggalkan dunia ilmu hitam.
Namun, proses pertobatan itu tidaklah mudah. Ria mengungkapkan bahwa dirinya sempat mengalami kesakitan luar biasa hingga tidak mampu mengucapkan kalimat syahadat. Dalam kondisi tersebut, ia merasa mendapat bantuan dari almarhum ayahnya, yang secara spiritual membantunya melewati proses paling menyakitkan dalam hidupnya hingga akhirnya bisa benar-benar berubah.