Tingkatkan Industri Bernilai Tambah, Pemerintah Dorong Kemitraan yang Saling Menguntungkan
KONAWE, iNews.id - Pemerintah terus mendorong program hilirisasi industri dengan mengurangi ekspor bahan mentah atau raw material, guna meningkatkan nilai tambah di sektor industri dan daya saing perekonomian nasional. Melalui program hilirisasi, pemanfaatan alih teknologi menjadi penting dalam memanfaatkan hasil sumber daya alam serta menjaga lingkungan.
“Berkali-kali saya sampaikan stop ekspor nikel. Tahun depan stop bahan mentah bauksit, tahun depan kita akan stop ekspor minerba lainnya. Kita berhenti ekspor bahan mentah yang tidak membawa nilai tambah besar bagi negara,” ujar Presiden Joko Widodo dalam acara Peninjauan Pabrik Ferronickel dan Stainless Steel serta Peresmian PT Gunbuster Nickel Industry di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Senin (27/12/2021).
Indonesia memiliki cadangan nikel nomor 1 di dunia yang mencapai 21 juta ton atau 24 persen dari total cadangan dunia. Produksi nikel Indonesia di 2020 mencapai 781.000 ton atau 31,8 persen dari produksi nikel dunia.
Ke depannya, produksi nikel tersebut diperkirakan akan terus meningkat, baik untuk produksi nickel pig iron maupun pemrosesan highpressure-acid-leach dari bijih berkadar rendah.
Ekspor Bahan Mentahnya Dilarang Tahun Depan, Jokowi Tawarkan Investor yang Ingin Bangun Hilirisasi Bauksit
Adapun peningkatan nilai tambah dari bijih nikel menjadi produk ferronickel adalah 14 kali, dan jika menjadi billet stainless steel akan mencapai 19 kali. Saat ini, smelter nikel yang beroperasi telah mencapai investasi sebesar 15,7 miliar dolar AS, dengan kapasitas ferronickel yang dihasilkan mencapai 969.000 ton per tahun.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, Ekspor produk ferronickel juga meningkat sangat pesat dari tahun ke tahun, di mana pada 2020 mencapai 4,7 miliar dolar AS, dan pada periode Januari hingga Oktober 2021 tercatat mencapai 5,6 miliar dolar AS.
Resmikan Pabrik Smelter Nikel, Jokowi: Nilai Tambah Meningkat 14 Kali Lipat
Berdasarkan data World Top Export, saat ini ekspor produk berbasis nikel (stainless steel slab, stainless billet dan stainless steel coil) Indonesia menempati peringkat 1 dunia dengan total ekspor senilai 1,63 miliar dolar AS di 2020 dan berada di peringkat 4 dalam produksi dunia.
Penerimaan Pajak 2021 Capai Rp1.231 Triliun dan Lampaui Target, Sri Mulyani: Hari Bersejarah
“Kemitraan yang saling menguntungkan antara industri dengan masyarakat akan membawa kemajuan bersama dan berdampak langsung pada pertumbuhan industri, penyerapan tenaga kerja, peningkatan kesejahteran masyarakat melalui kewirausahaan, sekaligus meningkatkan infrastruktur sosial masyarakat,” ujar Menko Airlangga dalam laporannya kepada Presiden Joko Widodo.
PT Gunbuster Nickel Industry yang diresmikan pada hari ini merupakan industri smelter yang terletak di Kabupaten Morowali Utara dan diharapkan akan menghasilkan ferronickel dengan kapasitas produksi 1,8 juta ton per tahun.
Dapat Suntikan Modal Rp1,3 Triliun, Kopi Kenangan Jadi F&B Unicorn Pertama di Asia Tenggara
Dengan ditambahnya investasi pada PT Gunbuster Nickel Industry, program hilirisasi mineral berbasis sumber daya alam akan semakin cepat tercapai.
Hal ini melengkapi lini produksi yang sebelumnya dilakukan di smelter PT Obsidian Stainless Steel Konawe, Sulawesi Tenggara. Perusahaan tersebut merupakan smelter penghasil ferronickeldengan kapasitas produksi 2,2 juta ton per tahun dan billet stainless steel dengan kapasitas produksi 3 juta ton per tahun. Sementara, PT Virtue Dragon Nickel Industry merupakan smelter penghasil ferronickel dengan kapasitas produksi 1 juta ton per tahun.
Ketiga perusahaan smelter tersebut akan menjadi bagian rencana Pemerintah untuk mendorong hilirisasi industri dalam peningkatan nilai tambah bahan baku mineral di dalam negeri. PT Obsidian Stainless Steel, PT Virtue Dragon Nickel Industry, dan PT Gunbuster Nickel Industry, secara total telah berinvestasi sebesar 8 miliar dolar AS, dengan penyerapan tenaga kerja lebih kurang 27.000 orang.
Editor: Aditya Pratama