Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Dekan FEB Untar Sebut Transformasi Industri Ritel dari Warung ke E-commerce Ubah Perilaku Konsumen
Advertisement . Scroll to see content

Pulihkan Usaha, Aprindo Minta Pemerintah Vaksinasi Covid-19 Sektor Ritel

Minggu, 14 Maret 2021 - 10:58:00 WIB
Pulihkan Usaha, Aprindo Minta Pemerintah Vaksinasi Covid-19 Sektor Ritel
Industri ritel menjadi salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19. (Foto: Ist)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.idIndustri ritel menjadi salah satu sektor yang terdampak pandemi Covid-19. Pembatasan kegiatan yang menahan aktivitas masyarakat membuat industri ritel sangat terpuruk.

“Jadi ritel itu terdampak karena PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), PSBB yang ketat, PSBB yang mengunci, menutup mal dan ritel. Kemudian juga PSBB yang berkelanjutan ya. Jadi, kita terdampak sekali dengan PSBB karena apa? Karena kita tahu dengan PSBB maka masyarakat atau konsumen itu diminta untuk stay at home, untuk work from home,” ujarnya saat dihubungi MNC Portal Indonesia, Sabtu (13/3/2021).

Roy menjelaskan, dengan adanya kebiasaan baru tersebut secara otomatis membuat kunjungan ke ritel modern atau kunjungan ke mal itu berkurang drastis. Oleh karena itu, produktivitas dari ritel tidak maksimal atau underperformed.

“Kenapa kita katakan demikian? Ini didasarkan atas hal yang pertama, misalnya itu dari survei Bank Indonesia (BI) indeks penjualan riil kita itu di sepanjang tahun 2020 berada pada situasi pertumbuhan yang minus. Minusnya dimulai dari bulan April-Mei ketika bulan Ramadan, Lebaran tahun lalu itu minusnya sangat signifikan,” katanya.

“Disurvei oleh BI (Bank Indonesia) indeks penjualan riil kita minus 20,6, bulan Juni minus 17,3, bulan Juli minus 12,6, kemudian bulan Agustus minus 10, dan seterusnya. Artinya, sepanjang tahun 2020 indeks penjualan riil itu tidak positif. Tapi minus di bawah angka 10 persen ya. Itu yang membuat dasar daripada produktivitas kita lemah,” ujarnya.

Roy menuturkan, indikator yang kedua adalah indeks kepercayaan konsumen. Di sepanjang tahun 2020 indeks kepercayaan konsumen Indonesia minus di bawah 100, artinya indeks kepercayaan konsumen yang disurvei BI berada di angka 60-80.

“Jadi sangat rendah sekali indeks kepercayaan konsumen, itu membuat konsumen tidak berbelanja. Bagi menengah ke atas menahan belanja, untuk menengah ke bawah kehilangan daya beli. Nah itu yang membuat pertumbuhan ritel sepanjang tahun 2020 ketika tahun 2019 kita masih positif 7,8-8 persen di tahun 2020 kita bertumbuh rendah sekali ya sekitar positif 1,2-1,5 persen,” ucapnya.

Sementara itu, Roy mengatakan, vaksinasi Covid-19 bagi peritel diharapkan segera dilaksanakan. Hal ini dilakukan untuk menumbuhkan kepercayaan bagi konsumen agar belanja lebih meningkat.

“Karena pemerintah sudah memvaksin pedagang rakyat, pedagang tradisional, tapi di ritel modern belum. Padahal kalau divaksin segera kan jualannya sama, jualan beras, jualan gula juga. Tapi ritel modern belum divaksin. Diharapkan kalau segera dapat divaksin maka, vaksin gratis, atau vaksin apapun sebutannya, itu dapat menumbuhkan kepercayaan bagi konsumen untuk belanja lebih meningkat,” kata dia. 

Editor: Ranto Rajagukguk

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut