IMF Sepakat Beri Pinjaman Rp43 Triliun untuk Sri Lanka
Program yang akan berjalan selama empat tahun akan bertujuan untuk meningkatkan pendapatan pemerintah, mendorong konsolidasi fiskal, memperkenalkan harga baru untuk bahan bakar dan listrik, menaikkan belanja sosial, meningkatkan otonomi bank sentral dan membangun kembali cadangan devisa yang habis.
Menurut data bank sentral, cadangan devisa Sri Lanka mencapai 1,82 miliar dolar AS pada Juli 2022.
"Mulai dari salah satu tingkat pendapatan terendah di dunia, program ini akan menerapkan reformasi pajak besar. Reformasi ini termasuk membuat pajak penghasilan pribadi lebih progresif dan memperluas basis pajak untuk pajak penghasilan badan dan PPN. Program ini bertujuan untuk mencapai surplus primer sebesar 2,3 persen dari PDB pada tahun 2024,” tulis pernyataan itu.
Setelah paket IMF disetujui, Sri Lanka kemungkinan juga akan menerima dukungan keuangan lebih lanjut dari kreditur multilateral lainnya.
Gejolak keuangan Sri Lanka saat ini merupakan yang terburuk sejak kemerdekaan negara itu dari Inggris pada tahun 1948. Hal ini berasal dari salah urus ekonomi serta pandemi Covid-19 yang telah memusnahkan industri pariwisata utama negara itu.