Tak hanya itu, pendudu yang cukup padat serta banyaknya kawasan industri membuat pembangunan pengendalian banjir di DAS Konaweha dinilai cukup strategis. Kemudian, BWS Sulawesi IV Kendari juga melakukan relokasi warga yang tinggal pada DAS Lasolo sebagai salah satu solusi penanganan banjir.
Kementerian PUPR Siapkan Akses Menuju Pelabuhan Patimban
“Tahun lalu, banjir yang melanda DAS Lasolo juga besar, namun dampak dan kerugian yang ditimbulkan tidak begitu besar karena di daerah ini penduduknya masih sedikit. Jadi, solusi yang akan dilakukan oleh BWS Sulawesi IV Kendari dalam menangani banjir di daerah tersebut dengan melakukan relokasi pada 2 kampung yang ada di sana,” kata Kepala Satker PJSA Arbor Reseda saat menjelaskan penanganan banjir di Sulawesi Tenggara.
Relokasi ini dilakukan sebabpada DAS Lasolo belum dihuni oleh banyak warga. Selain itu, untuk menangani banjir di Kota Kendari, BWS Sulawesi IV Kendari juga sedang membangun tanggul sepanjang 10 km (sisi kanan dan kiri) dari Muara Teluk Kendari hingga hulu DAS Wanggu.
“Di kota Kendari, ada Teluk Kendari. Walaupun hanya ada satu sungai besar yaitu sungai Wanggu, tapi di kanan kiri teluk ada banyak sungai yang memiliki tipe banjir bandang, karena air yang datang dari kawasan perbukitan ketika hujan, langsung menuju ke Teluk Kendari. Saat ini, total tanggul yang sudah selesai dikerjakan yaitu 16 km, masih ada sisa 4 km yang sedang proses pembebasan lahan,” kata Arbor Reseda.
Selain itu, terdapat kolam retensi Wanggu yang sedang dibangun untuk menangani banjir di kota yang terkenal dengan kacang mete tersebut. Kolam retensi Wanggu yang memiliki luas 9 hektar ini akan menampung air sebanyak 450.000 m3, yang rencananya akan selesai dibangun pada Oktober 2020. Pada kolam retensi ini juga akan dibangun ruang terbuka hijau yang nantinya bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.