Rupiah Hari Ini Ditutup Menguat Tipis ke Level Rp15.455 per Dolar AS
Sementara, ekspektasi pemangkasan suku bunga pada bulan September juga menjadi pendorong utama nelemahnya dolar AS baru-baru ini, mengingat pemangkasan tersebut kemungkinan akan memicu siklus pelonggaran oleh Fed. Neraca perdagangan China secara tak terduga tumbuh pada bulan Agustus karena menguatnya ekspor negara tersebut.
Namun, impor yang lamban mengimbangi kegembiraan atas tren ini, mengingat hal itu menandakan permintaan yang lesu di negara tersebut. Impor China secara keseluruhan menyusut 12,3 persen tahun-ke-tahun pada bulan Agustus, meskipun masih dalam wilayah positif selama delapan bulan pertama tahun ini.
Data impor yang lemah muncul setelah serangkaian pembacaan yang lemah pada ekonomi China selama seminggu terakhir, yang menimbulkan kekhawatiran atas melambatnya pertumbuhan di negara pengimpor komoditas terbesar di dunia.
Data tersebut, ditambah dengan pergerakan risk-off yang lebih luas di pasar global, menyebabkan komoditas mengalami penurunan tajam selama seminggu terakhir.
Dari sentimen domestik, penjualan eceran di Tanah Air yang kembali menggeliat di tengah masih kuatnya fenomena vibecession, memberi harapan akan daya tahan perekonomian domestik ketika gelombang pemutusan hubungan kerja makin membesar.