Ngerinya Dampak Tarif Trump: Saham Perusahaan Teknologi Rontok, Terparah Apple
Penurunan saham teknologi terjadi di tengah aksi jual pasar yang lebih luas. Hal ini dipicu kekhawatiran pada perang dagang global, setelah Trump mengumumkan tarif 10% untuk semua barang impor dan serangkaian bea masuk lebih tinggi untuk negara-negara tertentu, pada Rabu malam lalu. Trump mengatakan, tarif baru yang merupakan respons terhadap tarif yang dikenakan negara-negara lain terhadap ekspor AS tersebut akan menjadi deklarasi kemerdekaan ekonomi bagi AS.
Setelah pengumuman recriprocall tariff atau tarif timbal balik Trump, perusahaan dan negara-negara di seluruh dunia merespons kebijakan yang sangat luas tersebut. China dikenakan tarif timbal balik 34%, yang ditambah dengan pajak 20% sebelumnya, Vietnam dikenakan tarif 46%, dan 20% untuk Uni Eropa. Sementara Indonesia dikenakan tarif timbal balik 32 persen.
Kementerian Perdagangan China bahkan telah mendesak AS agar segera membatalkan kebijakan tarif sepihak itu dan mengancam akan mengambil tindakan balasan yang tegas.
Tarif Trump ini diberlakukan setelah indek saham Nasdaq (National Association of Securities Dealers Automated Quotations) yang didominasi perusahaan teknologi, melewati kuartal terburuk sejak 2022. Saham-saham di seluruh sektor mengalami tekanan karena kekhawatiran akan melemahnya ekonomi AS.
Trump dalam pidatonya memuji beberapa perusahaan teknologi besar karena menginvestasikan uang mereka di AS. Dia juga menyoroti rencana Apple untuk membelanjakan 500 miliar dolar AS dalam empat tahun ke depan.