Produk RI Sulit Tembus Pasar Eropa, Kemendag Bidik Ekspor ke Asia Selatan dan Afrika
"UMKM kita sekarang lagi kita buka pasar ke Asia Selatan, Bangladesh, India, Pakistan, orangnya ada 2 miliar, banyak itu, asal harganya cocok. Kita punya kerudung, itu harganya Rp25.000, kan tidak sampai 2 dolar AS, baju kita jual ada yang 7-10 dolar AS, itu kita jual ke Afrika laku. Afrika itu orangnya ada 1,6 miliar," katanya.
Sebagai informasi, Uni Eropa telah menerapkan Undang-Undang Komoditas Bebas Deforestasi Uni Eropa atau EU Deforestation Regulation (EUDR). Hal itu akan berdampak pada sulitnya akses pasar ke Uni Eropa untuk beberapa komoditas asli Indonesia
Setidaknya akan ada enam komoditas Indonesia bakal sulit untuk menembus pasar Uni Eropa, seperti kopi, kakau, karet, furniture, CPO, dan sapi.
Hal tersebut karena keenam komoditas tersebut saat ini dinilai paling banyak melakukan deforestasi maupun dianggap produk yang menghasilkan emisi karbon cukup tinggi dari proses produksinya. Sebab, melalui kebijakan EUDR, Uni Eropa mengklasifikasikan produk yang masuk dalam tiga kategori, pertama low risk dengan tingkat emisi karbon 3 persen, standard risk dengan paling banyak menyumbang 6 persen, dan high risk paling banyak 9 persen.
"Karena kalau Indonesia mau maju UMKM harus berkembang, karena menjadi penyumbang 65 persen, dan membuka cukup banyak lapangan pekerjaan untuk masyarakat," ucapnya.
Editor: Aditya Pratama