Pendiri Pinduoduo dan Temu Colin Huang Jadi Orang Terkaya China, Hartanya Tembus Rp775 Triliun
Model bisnis Temu yang terutama bergantung pada vendor China perorangan yang mengirimkan barang langsung ke klien di seluruh dunia, tanpa memerlukan perantara. Biaya produksi China yang relatif rendah dibandingkan dengan sebagian besar negara Barat juga memudahkan Temu untuk mempertahankan margin. Perusahaan juga menghabiskan banyak uang untuk pemasaran di media sosial.
Dengan perlambatan ekonomi di China, menyusul krisis real estate di negara tersebut, berbagai macam produk Temu dengan harga diskon besar mengalami lonjakan permintaan. Platform ini juga menawarkan banyak penawaran dan hadiah berkelanjutan. Ini menarik pelanggan untuk berbelanja lebih sering.
Alhasil, perusahaan memanfaatkan perubahan kebiasaan belanja di negara tersebut, karena konsumen beralih dari produk mewah kelas atas, dan menginginkan nilai yang lebih baik.
Hal ini juga terlihat di negara lain seperti Inggris dan Amerika Serikat, di mana e-commerce Temu juga sangat populer.
Namun, Temu telah menghadapi sejumlah masalah baru-baru ini, dengan perusahaan melihat beberapa protes pemasok di tempat-tempat seperti Guangzhou, China, terhadap denda perusahaan yang sangat tinggi untuk hal-hal seperti layanan pelanggan yang buruk.