Kisah Sukses Pendiri Traveloka, Keluar dari Zona Nyaman hingga Kalahkan Rasa Insecure
Namun ternyata, ketika berjalan 1 semester di di Harvard University, ketertarikan Ferry mengembangkan perusahaan rintisan (startup) semakin besar. Hingga pada akhirnya dia memilih startup di bidang mesin pencari tiket pesawat. Hal itu dipilihnya ketika dirinya sendiri merasa kesulitan saat memesan tiket Amerika-Indonesia.
Berawal dari solusi untuk memecahkan permasalahannya sendiri itulah, Ferry mengembangkan sebuah mesin pencari tiket pesawat dengan teknologi yang lebih modern, fleksibel dan praktis.
Tepat ketika Ferry berusia 23 tahun, dia memutuskan untuk melangkah keluar dari zona nyaman. Saat itu, dia melihat bahwa startup di bidang reservasi tiket masih booming dan menjadi trend.
Menurutnya banyak investor berlomba-lomba untuk masuk ke industri startup reservasi tiket. Sehingga dia berpikir bakal ketinggalan gerbong apabila tidak segera menyeriuskan ketertarikannya untuk memulai bisnis startup tersebut.
Sebagai informasi, pada 2012, konsep bisnis Traveloka adalah situs pencari dan pembanding tiket pesawat. Bersama kedua sahabatnya Derianto Kusuma dan Albert S Ferry, mereka mendirikan startup yang saat ini berstatus unicorn itu.