Ini 3 Penyebab Utang Garuda Bengkak hingga Rp100 Triliun
Sementara itu, VP Corporate Secretary & Investor Relations Garuda Indonesia Mitra Piranti menyebut, harga sewa pesawat Garuda Indonesia tergantung harga pasar saat pesawat diakuisisi, di mana harga sewa pesawat mempertimbangkan jangka waktu sewa, tahun pembuatan, dan konfigurasi pesawat. Dengan begitu, terjadi perbedaan signifikan antara harga sewa tahun-tahun sebelumnya dengan harga sewa saat ini.
Harga sewa pesawat di pasar pun akan mengalami penurunan atau tercatat dinamis. Hal ini tergantung pada usia pesawat, kondisi pasar, dan kondisi teknis pesawat.
- Indikasi Korupsi
Selain utang Garuda, terdapat adanya indikasi praktik korupsi di internal perusahaan. Hal ini pun diakui Erick Thohir.
"Upaya restrukturisasi terus berjalan. Negosiasi utang-utang Garuda yang mencapai 7 miliar dolar AS karena leasing cost termahal yang mencapai 26 persen dan juga korupsi, lagi dinegosiasikan dengan para lessor," ujar Erick, dikutip Jumat (5/11/2021).
- Kesalahan Bisnis
Erick juga mengakui adanya kesalahan bisnis Garuda Indonesia. Pemegang saham menilai manajemen tidak memaksimalkan ceruk pasar domestik yang potensial.
Padahal, penerbangan masih didominasi oleh penumpang domestik. Tercatat, 78 persen penumpang menggunakan pesawat untuk bepergian antar pulau dengan estimasi perputaran uang mencapai Rp1.400 triliun
Erick pun memiliki sejumlah rencana besar untuk menyelamatkan bisnis Garuda Indonesia. Selain restrukturisasi utang, Garuda akan difokuskan pada rute penerbangan domestik.
Editor: Aditya Pratama