Era Baru Transportasi Bandung Raya, KDM: Modern, Terintegrasi, dan Berkeadilan
Dia memaparkan, BRT nantinya akan menjadi tulang punggung mobilitas yang terhubung langsung dengan kereta api dan angkutan pengumpan (feeder). Penandatanganan PSO juga dipastikan menjamin keberlangsungan operasional layanan dengan tarif yang terjangkau bagi semua kalangan.
Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Aan Suhanan mengatakan, program BRT Cekungan Bandung didukung pendanaan dari Pemerintah Indonesia, World Bank, dan Agence Française de Développement (AFD).
Proyek Mastran secara nasional memiliki nilai pembiayaan mencapai 264 juta dolar AS (sekira Rp3,8 triliun). Khusus untuk pembangunan infrastruktur BRT di Cekungan Bandung, total investasi dialokasikan sebesar Rp1,3 triliun yang mencakup:
- Pembangunan 21 kilometer jalur khusus BRT
- Pembangunan 6 depo utama BRT
- Pembangunan 719 halte off-corridor dan 34 halte on-corridor
- Penerapan Intelligent Transportation System (ITS) untuk mendukung integrasi layanan
Aan merinci, pembangunan tahap pertama difokuskan pada halte off-corridor, Depo Cicaheum, Depo Leuwipanjang, dan jalur utama BRT. Tahap berikutnya akan menyasar pembangunan halte ikonik di Tegalega, Alun-alun Bandung, Stasiun Hall, Kiara Artha Park, serta depo tambahan di Cimenyan, Padalarang, Soreang, dan Majalaya.
Ke depannya, sistem BRT ini ditargetkan memiliki waktu tunggu (headway) maksimal 7 menit pada jam sibuk dan 15 menit di luar jam sibuk.
"Kami optimistis seluruh pekerjaan dapat diselesaikan sesuai target, sehingga masyarakat Bandung Raya segera menikmati transportasi publik yang efisien, andal, dan berkelanjutan," ucapnya.
Editor: Rizqa Leony Putri