Berantas Sindikat Judol, OJK Sikat 32.556 Rekening
JAKARTA, iNews.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan telah memblokir 32.556 rekening terkait judi online (judol). Angka tersebut meningkat dari sebelumnya sebesar 32.144 rekening.
“Selanjutnya, terkait dengan pemberantasan judi online yang berdampak luas terhadap perekonomian dan sektor keuangan, OJK juga telah meminta bank untuk melakukan pemblokiran terhadap kurang lebih 32.556 rekening yang sebelumnya ini sebesar 32.144 rekening dari data yang disampaikan oleh Kementerian Komunikasi dan Digital,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, Selasa (3/3/2026) .
OJK juga menginstruksikan bank untuk melakukan penutupan rekening yang identitasnya sesuai dengan data tersebut serta melakukan Enhanced Due Diligence (EDD).
Sementara itu, OJK mencatat kinerja industri perbankan nasional tetap kokoh mengawali tahun 2026. Pertumbuhan intermediasi tercatat positif yang dibarengi dengan profil risiko yang tetap terjaga, meski di tengah tantangan ketidakpastian global.
Viral Pria Diduga Tempel QR Code Judol di Jaksel, Polisi Amankan Pelaku
Dian mengatakan, total kredit perbankan mencapai Rp8.527 triliun per Januari 2026, tumbuh 9,96 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Desember 2025 yang tercatat sebesar 9,63 persen.
Miris! Perputaran Uang Judol Capai Rp286 Triliun selama 2025, Ada 12 Juta Pemain Aktif
“Pada Januari 2026, kredit tumbuh sebesar 9,96 persen year-on-year menjadi sebesar Rp8.527 triliun, meningkat dibandingkan positif Desember 2025 yang tumbuh 9,63 persen,” ungkapnya.
Berdasarkan data OJK, kredit investasi tumbuh tertinggi sebesar 22,38 persen, diikuti oleh kredit konsumsi sebesar 6,58 persen, dan kredit modal kerja sebesar 4,13 persen. Dari sisi korporasi, pertumbuhan tercatat sebesar 16,07 persen, sementara bank BUMN memimpin dari sisi kepemilikan dengan kenaikan 13,43 persen.
Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tercatat tumbuh positif sebesar 13,48 persen menjadi Rp10.076 triliun, dengan giro sebagai komponen yang tumbuh paling tinggi (19,75 persen). Dian menegaskan bahwa ketahanan perbankan saat ini memiliki bantalan (buffer) yang sangat memadai.
“Ketahanan perbankan juga tetap kuat. Ini tercermin dari permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) sebesar 25,87 persen Desember yang lalu tercatat 25,87 persen tentu ini menjadi buffer mitigasi risiko yang kuat di tengah kondisi ketidakpastian global di masa ini,” tegasnya.
Meskipun rasio kredit bermasalah (NPL Gross) sedikit naik ke level 2,14 persen dari sebelumnya 2,05 persen, angka tersebut dinilai masih terjaga jauh di bawah ambang batas aman.
Editor: Puti Aini Yasmin