Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Bertemu Siti Atikoh, Pedagang Tempe di Pasar Probolinggo Curhat soal Harga Kedelai
Advertisement . Scroll to see content

30.000 Perajin Tahu Tempe Setop Produksi akibat Harga Kedelai Tak Stabil

Minggu, 13 Februari 2022 - 09:26:00 WIB
30.000 Perajin Tahu Tempe Setop Produksi akibat Harga Kedelai Tak Stabil
30.000 perajin tahu tempe setop produksi akibat harga kedelai tak stabil. Foto: Ist
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) mengatakan, harga kedelai tidak stabil dalam sepekan terakhir. Hal itu menyebabkan puluhan ribu perajin tahu tempe setop produksi.

Ketua Umum Gakoptindo Aip Syarifuddin mengungkapkan, harga kedelai di tingkat importir naik hingga 1-3 kali setiap minggu. Bahkan pernah dalam satu minggu naiknya sampai lima kali lipat.

"Harga kedelai impor belakangan ini naik. Pernah waktu itu dalam sepekan (harga kedelai) naiknya sampai lima kali. Pak Dirjen, tolong harganya dibuat stabil, setidaknya minimal sekali sebulan," kata Aip dalam konferensi pers, dikutip Minggu (13/2/2022).

Dia menjelaskan, harga kedelai yang mengalami fluktuasi itu mengakibatkan perajin tahu tempe bingung untuk melanjutkan produksinya. Akibatnya sejumlah perajin memutuskan berhenti produksi.

"Sebelumnya kita punya sekitar 195.000 perajin tahu tempe skala rumahan. Tapi sekarang realitanya ada sekitar 20 persen atau 30.000 perajin berhenti produksi akibat fluktuasi harga kedelai yang tinggi," tuturnya.

Menurutnya, perajin yang berhenti produksi umumnya menggunakan kedelai sekitar 10 hingga 20 kilogram (kg) per hari. Sementara para perajin yang mampu bertahan di situasi seperti ini adalah perajin skala besar atau yang mengolah kedelai sebanyak 100 kg per hari. 

Dia menuturkan, para perajin skala besar itu mau tidak mau mengambil strategi agar tetap untung, yakni dengan mengurangi ukuran tahu tempe dari biasanya. 

"Itu yang membuat mereka akhirnya tidak bisa berusaha terus-menerus. Kalau yang jumlahnya di atas 100 kilo atau lebih besar itu bisa dikurang-kurangi produksinya dan kadang-kadang juga ukurannya dikurangi untuk mencegah kerugian," ujar Aip.

Editor: Jujuk Ernawati

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut