"Terutama, melihat saat ini, komitmen anggaran untuk pembangunan pariwisata oleh pemerintah sangatlah besar, sehingga pembangunan ini harus disertai dengan pendalaman potensi market. Jadi supply pariwisata yang sedang kita bangun, bisa matching dengan potensi market yang ada dan yang akan datang," kata Angela.
Lanjut Angela, ketika sudah bisa mencocokan antara potensi destinasi dengan potensi market, pengembangan destinasi, produk, pengalaman, dan lain sebagainya itu, tentunya bisa disesuaikan dengan profiling market yang akhirnya bisa menghasikan spending yang besar serta length of stay yang lama. Terutama, menciptakan loyalitas, atau repeat traveler, sehingga pada akhirnya, Indonesia menjadi top of mind atau pilihan terutama dalam berwisata.
"Dalam perencanaan tentunya perlu memerhatikan apa yang menjadi keunikan dan daya tarik di Indonesia, di antaranya yaitu alam, budaya dan ekonomi kreatifnya, sehingga hal-hal yang menjadi keunikan ini, perlu menjadi bagian sentral dalam pengembangan destinasi dan produk pariwisata," katanya.
Menurutnya, perlu ada strategi pelestarian yang bisa selaras dengan pemanfaatannya, sehingga aset pariwisata dan pemanfaatan dari aset pariwisata ini bisa terus dirasakan sampai ke generasi mendatang.
"Dalam perencanaan pembangunan pariwisata memang harus komprehensif, end to end, contohnya ketika kita bicara suatu market, maka harus diiringi dengan strategi konektivitasnya, seperti ketersediaan dari direct flight kepada market tersebut, juga sampai kepada pengembangan sumber daya manusia yang harus direncanakan sesuai dengan target pengembangan industri," katanya.