JAKARTA, iNews.id – Menikmati Semarang biasanya identik dengan wisata kuliner, jelajah Kota Lama, atau menyusuri kawasan Pecinan. Namun, ada cara lain yang mulai dilirik, yaitu memahami kota ini justru dari tempat menginap.
Cara ini menjadi tren baru di masyarakat, karena jejak akulturasi budaya terasa lebih dekat dan personal. Apakah Anda tertarik mencobanya?
Sebagai kota pelabuhan yang sejak lama menjadi titik temu berbagai etnis, Semarang menyimpan cerita panjang tentang percampuran budaya, khususnya China dan Jawa. Cerita itu tidak hanya tercermin di jalanan atau bangunan tua, tetapi kini juga dihadirkan dalam pengalaman ruang yang bisa dirasakan langsung.
Di sebuah sudut kota, pengalaman tersebut dikemas dalam bentuk yang berbeda. Pengunjung tidak sekadar datang untuk beristirahat, melainkan diajak menyelami suasana yang merefleksikan pertemuan dua budaya besar tersebut.
Mulai dari material bangunan, tata ruang, hingga detail ornamen, semuanya terasa seperti potongan cerita yang disusun perlahan.
Alih-alih menampilkan budaya secara eksplisit, pendekatan yang digunakan justru lebih halus. Nuansa China–Jawa hadir lewat elemen-elemen seperti kayu, bata, hingga sentuhan porselen klasik yang menyatu tanpa terasa dipaksakan. Hasilnya, suasana yang tercipta di Hotel KoenoKoeni terasa hidup, bukan seperti replika, melainkan interpretasi modern dari sejarah yang masih relevan.