Kata 'Bali' juga ditemukan dalam Prasasti Raja Jayapangus antara lain dalam Prasasti Buwahan D (sekitar tahun 1100-an Masehi). Dalam Prasasti tersebut ditemukan kalimat yang berbunyi sebagai berikut, "pinaka pangupajiwa ning jiwa, jiwa wardhana ring Bali Dwipa" yang artinya 'merupakan sumber penghidupan demi pertumbuhan setiap penduduk di Pulau Bali'.
Adapun jika dicermati, ada kesamaan kata antara Wali dan Bali. Dalam bahasa Bali, huruf W dan B memiliki persamaan padanan. Contoh pohon weringin yang merujuk kepada penyebutan pohon beringin. Dengan demikian, penamaan antara Wali ataupun Bali itu sendiri sesungguhnya sama saja.
3. Ada Juga Nama 'Banten'
Selain nama Bali ataupun Wali, ada pula nama 'Banten' yang ditemukan pada prasasti Tengkulak A yang ditemukan pada tahun 1023 M. Memuat kata "siniwi ring desa banten" yang berarti 'dihormati di Pulau Bali'.
Sebutan Banten tersebut ditemukan pula dalam kaitannya dengan nama salah satu Raja Bali Kuno yang ditemukan dalam prasasti Langgahan yang bertahun Saka 1259 (sekitar 1337 Masehi). Raja Bali Kuno ini bernama Paduka Bhatara Sri Astasura Ratna Bumi Banten yang jika diartikan menjadi 'Raja ibarat delapan Dewa (penguasa arah mata angin) dengan pulau Banten sebagai permatanya'.
Adapun menurut IB Bangli, kata Banten juga memiliki arti yang sama dengan kata Wali dan Bali yakni 'persembahan.' Kata Bali dianalogikan dengan perubahan kata sebagai bentuk ungkapan halus dalam Bahasa Bali seperti kata 'sari' yang menjadi santen, 'sesari' dan sesantun, hingga kalimat 'kari' yang berubah menjadi kantun.