JAKARTA, iNews.id - Di tengah tren slow travel yang semakin digemari, Bhutan hadir sebagai destinasi yang bukan hanya sekadar tempat liburan, melainkan ruang untuk benar-benar bernapas. Kenapa begitu?
Negeri yang dijuluki Naga Guntur ini menawarkan pengalaman wisata yang tenang, reflektif, sekaligus kaya akan budaya. Kombinasi yang sulit ditolak bagi siapa pun yang ingin healing dari hiruk-pikuk keseharian.
Berada di kawasan Himalaya, Bhutan seperti dunia yang berjalan dengan ritmenya sendiri. Tidak ada kesan terburu-buru. Sebaliknya, yang ada adalah lanskap pegunungan megah, lembah hijau yang damai, serta masyarakat yang masih memegang erat tradisi dan spiritualitas.
Salah satu daya tarik utama Bhutan adalah pesonanya yang berubah di setiap musim. Di musim dingin, suasana terasa begitu hening dengan pegunungan berselimut salju, cocok untuk mencari ketenangan. Ketika musim semi tiba, alam Bhutan seolah hidup kembali lewat mekarnya bunga rhododendron dan anggrek yang menghiasi lereng-lereng gunung.
Musim panas menghadirkan sisi lain Bhutan, yaitu lembah hijau subur, sungai jernih, dan aktivitas luar ruang seperti trekking hingga arung jeram. Sementara musim gugur menjadi momen paling semarak dengan langit cerah dan berbagai festival budaya yang penuh warna.
"Bhutan bukan sekadar destinasi, ini adalah perjalanan melintasi waktu, budaya, dan alam," ujar Damcho Rinzin, Direktur Departemen Pariwisata, dalam keterangan resminya, dikutip Rabu (15/4/2026).