Program Director Akatara, Vivian Idris, mengungkapkan, meski bukan penyumbang devisa terbesar di Indonesia, film selalu didapuk sebagai lokomotif dari 17 subsektor ekonomi kreatif karena kemampuan media audiovisual mengakomodir 16 subsektor ekraf lainnya. Akatara pun mendapat sambutan meriah dari para undangan karena forum ini membuka sekat antara subsektor dan memungkinkan kesempatan untuk eksplorasi dan kolaborasi.
“Saya tak bosan mengajak bapak-ibu semua (stakeholders perfilman Indonesia) untuk mengeksplorasi kerja sama, fasilitas, dan potensi yang ada di Akatara. Para investor film dan collaborator, di sinilah tempat Anda menemukan berbagai project dari seluruh Indonesia. Para venture capitalist yang gencar berinvestasi di startup, Akatara adalah tempat berkumpulnya startup film di Indonesia. Jika jeli, Anda bisa menemukan the next unicorn di Akatara,” katanya.
Selain matchmaking, Pitching Forum Akatara 2022 juga menghadirkan berbagai talkshow dengan ragam tema menarik. Di antaranya “Fasilitasi Kemenparekraf untuk Ekosistem Perfilman Indonesia” bersama dengan Direktur Akses Pembiayaan Kemenparekraf/Baparekraf, Hanifah Makarim; Direktur Industri Musik, Film dan Animasi Kemenparekraf/Baparekraf, Muhammad Amin; dan Direktur Pemasaran Ekraf Kemenparekraf/Baparekraf, Yuana Rochma.
Kemudian, talkshow “Kondisi Terkini Industri Konten dan Film Indonesia’ pada 29 Maret 2022 bersama Joko Anwar, Andi Boediman, dan Dwi Heriyanto dan talkshow ‘Co-production and Funding Opportunity oleh Netherland Film Fund pada 30 Maret 2022.
Dalam kesempatan itu turut hadir Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Krisis Kemenparekraf/ Baparekraf, Fadjar Hutomo; Staf Ahli Menteri Bidang Reformasi Birokrasi dan Regulasi Kemenparekraf/ Baparekraf, Raden Kurleni Ukar; Kepala Biro Komunikasi Kemenparekraf, I Gusti Ayu Dewi Hendriyani; dan Direktur Utama Perum Produksi Film Negara, Dwi Heriyanto.