Sebagai catatan, di sepanjang 2025, Bali mencatat 16,33 juta pergerakan wisatawan mancanegara. Tingginya mobilitas tersebut menjadi indikator pemulihan dan pertumbuhan sektor pariwisata. Namun di sisi lain, lonjakan kunjungan juga meningkatkan timbulan sampah di destinasi.
Jika tidak dikelola dengan baik, persoalan sampah dapat berdampak pada ekosistem pesisir, kualitas air laut, hingga citra Bali di mata wisatawan global. Di tengah tren wisata berbasis keberlanjutan, kebersihan kini menjadi bagian dari daya saing destinasi.
Karena itu, pendekatan yang diambil dalam aksi ini tidak berhenti pada pengangkutan sampah. Kegiatan melibatkan berbagai unsur, mulai dari karyawan InJourney Group, Pemerintah Kabupaten Badung, Dinas Lingkungan Hidup, aparat kepolisian, otoritas bandara, bea cukai, imigrasi, komunitas lokal hingga pelajar.
Kolaborasi lintas sektor ini menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan membutuhkan partisipasi bersama.
"Permasalahan ini tentu tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Melalui semangat gotong royong dan kolaborasi lintas sektor, kami percaya setiap elemen mulai dari pemerintah, pelaku industri, komunitas, hingga masyarakat memiliki peran penting dalam menghadirkan solusi yang berkelanjutan," ungkap Herdy.