Singkat cerita, Ratna Narekh yang juga merupakan seorang penari ini mendapat tawaran berkunjung ke suatu desa saat dirinya berada di wilayah Wonosobo. Dia dibujuk oleh lurah desa tersebut yang merupakan seorang pria cabul yang ingin bisa meniduri dirinya dengan alibi menawarkan tempat tinggal.
Karena hidupnya mengembara, Ratna pun menerima tawaran untuk menetap di desa tersebut. Lalu saat malam hari, lurah dan pengawalnya mencoba untuk melancarkan misi memuaskan hasrat tersebut. Namun, karena kesaktian Ratna, belum sampai menyentuh saja mereka secara otomatis sudah terpental bahkan mati terbunuh.
Pasca kematian sang lurah, Ratna Narekh pun menjadi pemimpin desa tersebut. Menariknya, desa itu ternyata merupakan gerbang halus Pantai Utara Jawa yang memiliki kolam air atau sendang yang dipercaya sebagai tempat persinggahan Nyi Roro Kidul, Ratu Pantai Selatan yang memiliki hubungan baik dengan kerajaan utara laut Jawa apabila berkunjung.
Ketika Ratu Pantai Selatan kembali ke kerajaannya, sendang tersebut dijaga oleh beberapa panglima dan ksatria Pantai Selatan untuk menjaga kemurnian airnya.
Kemudian ada hal yang unik di desa tersebut, penduduknya dilarang dan berpantang untuk melakukan tari-tarian yang diiringi oleh gamelan untuk menghormati para lelembut yang mendiami kawasan tersebut. Ratna Narekh yang merasa dirinya sakti mandraguna lantas diliputi kesombongan.
Dia dengan sengaja melanggar pantangan adat tersebut bahkan menantang semua penghuni Alas (hutan) Daha, termasuk para makhluk halus penghuni kolam air tempat tinggal Nyi Roro Kidul.