Di tengah perdebatan orang tuanya, sang bayi mulai rewel dan menangis terus-menerus. Saat itu, cuaca di ketinggian memang terasa sangat dingin.
Kondisi bayi yang semakin mengkhawatirkan di tengah suhu pegunungan yang rendah menjadi titik kritis dari keseluruhan kejadian ini.
Beruntung, ada anggota SAR yang sedang melakukan kegiatan SMR (Search and Mountain Rescue) di sekitar lokasi. Mengetahui kondisi bayi yang kedinginan dan situasi orangtua yang tengah berdebat, tim SAR segera mengambil tindakan.
Selimut darurat atau blanket emergency segera digunakan untuk menyelimuti tubuh sang bayi guna mencegah penurunan suhu tubuh lebih lanjut. Tindakan cepat ini menjadi penyelamat situasi sebelum proses evakuasi dimulai.
Setelah kondisi bayi distabilkan, tim SAR bersama orang tua segera membawa bayi tersebut turun menuju basecamp. Setelah ditenangkan dan diberikan kehangatan tambahan, bayi tersebut langsung dibawa turun bersama orangtuanya menuju basecamp.
Kejadian ini kemudian beredar luas di media sosial dengan narasi yang sebagian besar menggambarkan kondisi bayi dalam keadaan kritis akibat hipotermia parah. Padahal, kondisi bayi tidak separah itu, namun benar mengalami hipotermia tapi ringan.
Meski demikian, kejadian ini tetap menjadi pengingat serius. Kemampuan bayi untuk mengatur suhu internal tubuh tidak sebaik orang dewasa, dan bayi dengan hipotermia berisiko tinggi mengalami gangguan pernapasan, metabolisme, sampai gangguan kesadaran.