Tidak hanya bangunannya yang berukuran besar, terlihat hampir semua rumah-rumah gedong ini juga memiliki halaman depan yang cukup luas dan bisa digunakan untuk parkir kendaraan beroda empat. Adapun beberapa rumah ini juga dilengkapi dengan garasi mobil serta pagar berupa tembok atau pagar besi yang tinggi mengelilingi rumah mereka.
Kendati demikian, pemandangan serta nuansa perdesaan di sekitar rumah-rumah gedong ini masih sangat terasa. Vegetasi tanaman hijau masih tumbuh subur dan menyejukkan mata. Seperti yang telah disebutkan, rumah-rumah tersebut tak lain milik para juragan bakso, di mana sumber utama ekonomi mereka dari berjualan bakso. Rumah bertingkat dengan pilar-pilar besar ini dibangun atas kerja keras.
Bagi para pencinta kuliner tentu sudah tak asing lagi dengan penamaan kuliner seperti Bakso Wonogiri atau Mie Ayam Wonogiri. Kalau dipikir-pikir memang cukup banyak masyarakat Wonogiri di kota besar seperti Jakarta, mencari nafkah melalui berdagang bakso. Para pedagang bakso ini pergi merantau ke luar daerah dikarenakan rasa prihatin, dengan harapan untuk mendapatkan pemasukan lebih. Diketahui juga sekitar tahun 1950-an, sudah ada penjual bakso yang mengadu nasib di Jakarta. Tidak hanya satu, tapi ada beberapa, salah satunya yang cukup populer di kawasan selatan Jakarta adalah, Bakso Lapangan Tembak yang pemiliknya berasal dari Wonogiri.