Dalam tradisi ini, jika seseorang dengan mata tertutup berjalan melewati kedua beringin tanpa salah arah, diyakini keinginan atau hajatnya akan terkabul. Dalam prosesinya, para prajurit akan memulai ritualnya dari halaman keraton, menuju pelataran alun-alun lalu melewati kedua beringin kembar tersebut tanpa mengucap satu kata. Hal ini yang kemudian diyakini untuk mencari berkah dan perlindungan dari serangan musuh.
Sejarah Alun-Alun Kidul Yogyakarta
Alun-Alun Kidul Yogyakarta disebut juga Alun-Alun Pangkeran, dibangun pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono I, pada 1755-1792. Dahulu alun-alun ini berfungsi sebagai tempat dilakukannya beragam aktivitas Keraton Yogyakarta.
Alun-Alun Kidul Yogyakarta memiliki kawasan yang sangat luas. Dahulu tempat ini juga dijadikan tempat berlatih para prajurit keraton. Mereka akan melatih konsentrasi dengan berjalan di antara dua beringin kembar dalam mata tertutup.
Pohon Kerajaan
Keraton Yogyakarta, hingga kini masih mempertahankan sejumlah aset utama Alun-Alun kidul seperti pohon beringin, pohon kweni, pohon pakel hingga pohon gayam. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, deretan pepohonan tersebut melambangkan keamanan, ketentraman, dan keteduhan. Selain itu, pohon beringin memiliki posisi istimewa bagi Kesultanan Yogyakarta. Sebagai tanaman kerajaan, pohon beringin yang besar dan rimbun melambangkan pengayoman raja kepada rakyatnya atau dianggap menimbulkan rasa gentar dan hormat.
Dalam Kesultanan Yogyakarta, pohon beringin termasuk dalam barang yang dipindahkan pada proses perpindahan keraton Mataram dari Kartasura menuju Surakarta, dan ditanam kembali di ibu kota baru. Bahkan, pada masyarakat Jawa masa lalu dikenal frasa "neres ringin kurung" yang secara harafiah berarti "menguliti kulit pohon beringin kurung" dan dimaknai sebagai "memberontak terhadap kekuasaan raja".