"Penanaman pohon dimulai di Mangrove wilayah Tukad Mati, Bali pada tahun 2020. Kami memilih untuk fokus melakukan penanaman Mangrove, karena mangrove mampu menyerap karbon lebih banyak dibandingkan pohon tropis lainnya," ujarnya.
Dia menambahkan, dengan isu perubahan iklim yang terjadi, upaya penanaman Mangrove dianggap sebagai langkah tepat untuk dapat berkontribusi menurunkan karbon di masa yang akan datang.
"PSKL-KLHK menyambut baik inisiatif tersebut yang memberikan dampak baik bagi hutan, lingkungan dan masyarakat. Kegiatan penanaman ini dilaksanakan di Kawasan Hutan Mangrove, yang mampu menyimpan karbon (carbon sinks) sebanyak 4 s.d 5 kali lebih banyak daripada hutan tropis daratan, terutama kandungan dalam tanahnya (coverground)," kata dia.
Perlu diketahui, hutan mangrove menjadi rumah bagi biota pesisir serta ekosistem secara keseluruhan. Dengan pemanfaatan yang baik secara lestari, mangrove juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar, misalnya melalui ekowisata, budidaya ikan tangkap, maupun dijadikan berbagai produk seperti batik, kecap, sirup, dan lainnya.
Kegiatan penanaman mangrove ini sejalan dengan tugas penting Indonesia sebagai negara pertama yang menyatakan, sektor Forestry and Other Land Use (FOLU) akan mencapai kondisi net sink pada 2030.