“Aku sampai bandara jam 12:20 siang, cuma telat 10 menit dari waktu boarding,” ujarnya dalam wawancara dengan suaranya yang masih terdengar bergetar.
Saat itu, dia marah dan frustrasi karena tidak diizinkan naik pesawat oleh petugas bandara, meski sudah memohon-mohon agar bisa masuk. “Aku bilang ke mereka, aku ini penumpang terakhir. Tolong, izinkan aku naik. Tapi mereka tetap tidak mengizinkan,” ungkap Bhoomi.
Kecewa berat, Bhoomi dan keluarganya meninggalkan bandara. Mereka mencari tempat duduk untuk menenangkan diri sambil minum teh, lalu menghubungi agen perjalanan untuk mengurus refund tiket.
Saat itulah ponselnya berdering. Kabar dari seberang sana tiba-tiba membuat tubuhnya lemas. Dia mendapat kabar bahwa pesawat Air India AI171 yang seharusnya dinaiki jatuh hanya 30 detik setelah lepas landas.
Seketika, semua rasa kecewa, marah, dan lelah karena macet tadi berubah menjadi syok dan ketakutan. Kecelakaan yang terjadi tak jauh dari landasan itu menewaskan 241 orang di dalam pesawat, termasuk 12 kru, serta sedikitnya 8 orang di permukiman warga yang tertimpa puing pesawat.
“Saat aku dengar kabar itu, aku cuma bisa terdiam. Rasanya seperti dunia berhenti sebentar. Itu benar-benar keajaiban,” katanya.
Salah satu penumpang asal Inggris, Vishwashkumar Ramesh, dilaporkan selamat dan sedang dirawat karena luka. Namun sisanya, tidak seberuntung Bhoomi. Beberapa warga negara asing turut menjadi korban, termasuk dari India, Kanada, Portugal, dan 53 warga Inggris.
Di antara mereka, ada satu keluarga asal Gloucester, tiga anggota keluarga dari London, dan pasangan suami istri pemilik pusat wellness spiritual di ibu kota Inggris. Bhoomi masih tidak bisa membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa terjadi jika dirinya datang tepat waktu.
“Waktu itu aku terus mikir. Andai aku berangkat lebih awal, pasti aku udah naik pesawat itu. Tapi sekarang aku bersyukur aku telat,” ujarnya.
“Aku kesel banget sama sopir kami waktu itu,” tambahnya sambil tertawa kecil, mencoba meredakan trauma yang masih menggantung di pikirannya.
Kini, rasa frustrasi karena ‘hanya’ telat 10 menit justru berubah jadi rasa syukur yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dia menjadi satu dari sedikit orang yang luput dari maut karena ‘hal sepele’, macet.
Kisah Bhoomi dengan cepat menyebar di media sosial dan memicu berbagai respons haru dari netizen. Banyak yang menyebut kisah ini sebagai bukti bahwa segala sesuatu terjadi bukan tanpa alasan.