"Karena dia memang bukan asli di Indonesia dan punya karakter unik, tetap harus ada campur tangan manusia sebagai manajerialnya," ungkapnya.
Dominasi ikan sapu-sapu tidak hanya berdampak pada jumlah populasi, tetapi juga berpotensi mengganggu keseimbangan biota lain di sungai. Jika dibiarkan, kondisi ini bisa merusak ekosistem dan mengancam spesies lokal.
Meski demikian, BRIN mengingatkan bahwa penanganan fenomena ini tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Pendekatan yang terlalu ekstrem, seperti pemusnahan massal, justru bisa menimbulkan dampak ekologis baru.
Sebagai solusi, Triyanto mendorong langkah yang lebih terukur dan berkelanjutan, seperti penangkapan rutin untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu tanpa merusak keseimbangan lingkungan.
"Lebih baik kita secara konservatif tapi terukur dan presisi dalam mengendalikan ikan sapu-sapu ini. Saya kurang setuju dengan pemusnahan, alangkah bijaknya penanganan melalui penangkapan yang rutin," tegasnya.