Triyanto menyebutkan bahan seperti molase atau gula bisa digunakan sebagai starter. Jika molase sulit didapat, masyarakat tetap bisa memanfaatkan bahan alternatif yang mudah ditemukan di dapur.
"Dikasih molase atau gula. Kalau enggak punya molase ya gula merah, enggak ada gula merah apa susah, gula pasir," ucap dia.
Lebih lanjut, dia memaparkan perbandingan bahan menjadi faktor penting dalam proses ini. Komposisi yang tepat akan membantu menghasilkan pupuk cair dengan kandungan nutrisi maksimal.
"Intinya jadi dikumpulkan bahan bakunya itu satu banding satu terus difermentasi selama kurang lebih di atas satu bulan ya," kata dia.
Proses fermentasi membutuhkan waktu agar zat-zat dari ikan dapat terurai dan terserap ke dalam cairan. Hasil akhirnya berupa pupuk cair yang siap dimanfaatkan untuk berbagai jenis tanaman.
Meski demikian, dia mengingatkan agar penggunaan pupuk ini tetap memperhatikan asal bahan baku. Jika ikan diperoleh dari perairan tercemar, penggunaannya perlu dilakukan secara hati-hati. "Nah, nanti cairan itu dijadikan pupuk, begitu," ucapnya
Melalui metode sederhana ini, ikan sapu-sapu yang sebelumnya tidak bernilai kini dapat diolah menjadi produk bermanfaat. Selain membantu mengurangi hama, cara ini juga mendukung praktik pertanian ramah lingkungan.