Menurut Pakar Anak Universitas Muhammadiyah Surabaya Holy Ichda Wahyuni, fenomena ini bukan hanya mencoreng nilai-nilai kemanusiaan, namun juga menampar realitas bahwa hari ini anak-anak semakin rentan terpapar risiko yang tidak lagi bisa ditangkal hanya dengan imbauan moral.
"Orang tua dan pendidik perlu menyadari satu hal yang teramat krusial bahwa ruang aman anak-anak semakin terkikis, bahkan dari tempat yang seharusnya menjadi paling suci dan aman yaitu di rumah dan keluarga,” ujar Holy, dikutip dari laman resmi UM Surabaya, Jumat (16/5/2025).
Holy yang merupakan Dosen Guru Sekolah Dasar (PGSD) mengatakan, manusia tumbuh dalam keyakinan bahwa rumah adalah tempat pertama dan utama untuk perlindungan. Namun sayangnya, dalam banyak kasus kekerasan seksual terhadap anak, pelakunya justru adalah orang-orang terdekat, seperti ayah kandung, ayah tiri, paman, sepupu, atau tetangga.
"Sehingga rasa takut, tekanan, dan ancaman membuat anak-anak memilih bungkam pada trauma mereka," ujar Holy.
Holy merasa ini adalah darurat yang nyata dan sudah saatnya seseorang meninggalkan pola pikir lama bahwa isu seksual adalah tabu untuk dibicarakan dalam keluarga. Justru, karena terlalu lama bungkam, predator itu leluasa mencari celah.