Perusahaan menjelaskan, peningkatan jumlah konsep yang dapat dikenali oleh teknologi ini dari yang awalnya hanya 100 menjadi lebih dari 1.200.
Peningkatan ini terwujud melalui pelatihan model menggunakan pembelajaran yang diawasi secara menggunakan sampel yang diklaim lebih akurat, dan inklusif secara budaya dan demografis.
Facebook menambahkan bahwa untuk memberikan lebih banyak informasi tentang posisi dan hitungan, perusahaan melatih detektor objek dua tahap menggunakan platform sumber terbuka yang dikembangkan oleh Facebook AI Research.
"Kami melatih model untuk memprediksi lokasi dan label semantik objek dalam sebuah gambar. Teknik pelatihan multi-label / multi-data membantu membuat model kami lebih dapat diandalkan dengan ruang label yang lebih besar," kata Facebook dikutip dari ZDnet, Jumat (22/1/2021).
Upaya serupa telah dilakukan oleh perusahaan teknologi lain untuk meningkatkan pengalaman pengguna bagi pengguna tunanetra, sebut saja Google.
Tahun lalu, Google merilis keyboard braille TalkBack untuk membantu pengguna mengetik langsung di perangkat Android mereka tanpa perlu menyambungkan keyboard braille fisik.
Sebelumnya, Amazon memperkenalkan fitur Show and Tell ke Echo Show sehingga bisa mengenali item dapur rumah tangga. Pengguna cukup memegang item ke layar tampilan dan bertanya, "Alexa, apa yang saya pegang?"