“Melalui digitalisasi kita bisa mendokumentasikan dan memperkenalkan karya, tradisi, dan pengetahuan budaya sehingga lebih mudah diakses melalui platform digital,” ucap Nezar.
Nezar menambahkan tren pengarsipan budaya secara digital saat ini juga berkembang di berbagai negara. Salah satu contohnya dilakukan Universitas Oxford bersama UNESCO yang merekonstruksi situs bersejarah Palmyra di Suriah menggunakan teknologi digital.
Dia mengatakan langkah tersebut menunjukkan teknologi dapat dimanfaatkan untuk menjaga sekaligus memperkenalkan warisan budaya dunia kepada masyarakat luas.
Nezar berharap kolaborasi antara Kementerian Kebudayaan dengan Kementerian Komunikasi dan Digital dapat mempercepat proses digitalisasi artefak serta pengetahuan budaya Indonesia.
Menurut dia, kerja sama lintas lembaga sangat dibutuhkan agar pelestarian budaya tidak tertinggal di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
“Teknologi harus menjadi sarana untuk menjaga sekaligus memperkenalkan kejayaan budaya bangsa kepada generasi masa kini dan masa depan,” kata Nezar.